Slider
Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Slider
Racing
Mempunyai
pasangan dalam Islam hukumnya wajib. Dalam Islam tidak dikenal dengan istilah
kehidupan selibat. Karena sunnatullah manusia adalah hidup berpasangan,
membentuk keluarga. Berumah tangga itu bagaikan berorganisasi, dengan visi
membentuk keluarga sakinah mawadah wa rohmah. Sedangkan misi mereka adalah
saling menutupi kekurangan masing-masing, menyembunyikan aib (kesalahan dan
kekhilafan) pasangannya di depan umum. Dalam al Qur’an Allah berfirman dalam
Surat Al Baqoroh ayat ke 187: “Mereka
(kaum perempuan) adalah pakaian buat kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka).
Fungsi
pakaian selain untuk menutup aurat adalah untuk berlindung diri dari hawa. Oleh
karena itu, mereka harus kompak dan saling membutuhkan antara satu dengan
lainnya. Posisi antara suami dan istri adalah berimbang, tetapi sebagaimana
‘organisasi’ kehidupan keluarga harus ada pemimpinnya, yaitu Sang Suami. Tugas suami layaknya sopir, sedangkan menjadikan
keluarga ‘sakinah, mawadah, wa rohmah’ adalah tujuannya.
Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, dengan apa-apa yang telah Allah
sebagian mereka dari sebagian yang lainnya, dan dengan apa-apa yang telah
mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang
saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak
ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). (An-Nisa’ : 34)
Dalam
ayat di atas menjelaskan keluarga secara ideal, bahwa lelaki bekerja dan
menafkahi keluarganya, sedangkan seorang istri berada di rumah. Bukan berarti
wanita tidak diperbolehkan untuk bekerja di luar rumah, selama mereka mampu
menjaga dirinya. Jika penghasilan yang dihasilkan oleh suami lebih rendah, maka
hal itu tidak menggugurkan posisi suami sebagai seorang imam keluarga, dan
tidak menggugurkan kewajiban seorang istri untuk menaatinya.
Seorang
istri berhak menegur suami, jika dirasa selama memimpin bahtera rumah tangga,
sang suami bertindak kontraproduktif terhadap tujuan dari rumahtangga itu
sendiri. Seperti Imam, ketika melakukan kesalahan, maka si makmum boleh menegur
si Imam. Jika dirasa bersalah, maka suami harus menurut kata istrinya. Karena
posisi Imam ini bukan posisi tanpa tanggungjawab sama sekali. Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Nabi bersabda;
“Kullu-kum roo’in wa kullu-kum
mas-uulun ‘an roo’iyatihi .. wa ar rajulu roo’in ‘alaa ahli baitihi wa huwa
mas-uulun ‘an roo’iyyatihi.
Setiap dari kalian adalah pemimpin dan
kamu semua harus bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. Dan laki-laki
adalah pemimpin keluarganya dan dia bertanggungjawab terhadap apa-apa yang
dipimpinnya. (Muslim)
Pertanggungjawaban
utama seorang suami kepada keluarganya tidak hanya memberi nutrisi untuk
kelangsungan hidup, tetapi tanggungjawab lebih pentingnya lagi adalah
menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa api neraka, sebagaimana firman
Allah “Jagalah dirimu dan keluargamu dari
siksa api neraka” (At Tahrim : 6). Sehingga suami harus dapat membimbing
istri dan anak-anaknya kepada perbuatan yang terpuji dan diridhai oleh Allah
swt. Oleh karena itu, seorang lelaki yang hendak menikah, harus berusaha
merubah diri menjadi lebih baik lagi. Dan dalam kehidupan bermasyarakat kita,
seorang lelaki yang telah menikah, merubah kebiasaan mereka, dari kebiasaan
bergadang sampai dini hari atau menghabiskan waktu bersama teman koleganya,
menjadi kebiasaan-kebiasaan yang tidak memboroskan waktu untuk
bersenang-senang.
Suami
ketika membimbing istri, mestinya dengan cara yang baik, lembut dan tidak
dengan kekerasan. Hal ini disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw
“Nasehatilah para wanita dengan
baik, sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (laki-laki) sebelah
kanan, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya, maka
seandainya engkau berusaha meluruskannya, niscaya dia akan patah dan kalau engkau
biarkan, ia akan tetap bengkok. Nasehatilah para wanita dengan baik.” (HR.
Bukhari-Muslim).
Hadits di atas adalah sebuah perumpaan
tentang tulang rusuk yang bengkok. Untuk meluruskan tulang rusuk yang bengkok,
tidak dengan membiarkan terus menerus, karena akan tetap bengkok. Jika
dipaksakan, maka tulang tersebut akan patah. Oleh karena itu, seorang suami
harus menasehati dengan cara baik dan lembut, bukan dengan kekerasan atau
terkesan sangat memaksa. Gambaran suami yang ideal dalam islam adalah sikap
mengayomi, karena hak istri itu adalah mendapatkan perlakuan yang baik dan
perlindungan dari suaminya.
Allah
berfirman dalam Surat An Nisa’ 19, yaitu wa
‘aasyiruu-hunna bil ma’ruf yang artinya ‘Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik’. Maksud kata ‘ma’ruf’
di sini adalah bertindak dan melakukan dengan selayaknya. Kewajiban suami tidak
hanya memberikan ‘uang’ kepada istri, sebagaiman yang banyak dipahami sebagian
dari kita. Kata ‘ma’ruf’ dalam ayat di atas adalah memperlakukan istri tidak
hanya pada segi materi, melainkan juga dalam hal masalah psikis. Atau dalam
bahasa kita adalah ‘membahagiakan’. Sehingga tugas utama dari seorang suami
adalah membahagiakan istri. Sabda Nabi; Orang mukmin yang paling sempurna imannya
ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap
istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
Tradisi
Islam menyebut tujuan dari keluarga dengan istilah ‘keluarga sakinah’. Hal ini
merujuk pada pemakaian kata ‘litaskunu’
dalam surat Ar Rum ayat 21
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri (manusia),
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah)kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramu rasa cinta dan kasih sayang(mawaddah wa warahmah). Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi
kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 21)
Istilah
‘litaskunu’ artinya ‘agar merasa
tentram’, maksudnya adalah Allah menciptakan perjodohan agar manusia merasa
tentram. Dari sini lah diambil ism
menjadi sakinah. Istri merasa tentram
berteduh bagi suami, begitu juga sebaliknya istri menjadi tempat tentram untuk
berteduh suami. Hal ini mengingatkan kita pada Ummul Mukminin, Siti Khadijah,
yang selama hidupnya menjadi tempat berteduh nabi, baik di awal pernikahan,
ketika pertama kali menerima wahyu, sampai pembelaannya yang luar biasa
terhadap diri rasul. Sehingga menciptakan ketenangan dan ketentraman adalah
kewajiban sekaligus hak, bagi suami istri.
Istilah
lainnya untuk menyebut tujuan keluarga adalah mawaddah wa rahmah. Mawaddah
menurut Ibn Katsir artinya cinta atau mahabbah.
Mahabbah dari kata ‘habba-yuhibbu’ atau setara dengan kata
‘love’ dalam bahasa inggrisnya. Sedangkan kata ‘Rahmah’ berarti kasih sayang,
implementasi dari rahmah ini adalah saling melindungi, saling memahami satu
sama lainnya, saling membantu, dan seterusnya. Sehingga ada perbedaan antara
mawaddah dan rahmah.
Cukup
dengan mengamalkan ketiga tujuan dari keluarga ini (sakinah, mawaddah wa
rohmah), ditambah mengetahui posisi suami sebagai imam, dan istri sebagai
makmum, maka kita mengetahui bagaimana
cara membahagiakan pasangannya.
Muamalah
Berbicara tentang Emansipasi wanita di Indonesia tak lepas dari Raden Adjeng Kartini. Tetapi perlu diingat, bahwa tokoh RA Kartini tidak akan muncul ke Permukaan, jika Abendanon tidak mengumpulkan surat-suarat RA Kartini yang ditujukan kepada teman-teman sejawatnya keturunan Eropa, seperti Stella, Ny. Abendanon, Ovink-Soer, dll. Semua Surat Kartini ini dikumpulkan jadi satu, di bawah judul Door Duisternis Tot Licht, Buku ini pada awalnya gak begitu terkenal, sebelum seorang Pujangga Angkata Balai Pustaka, Arjmin Pane, menerjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbit lah Terang”.
Tidak sepenuhnya pemikiran RA Kartini berkesesuaian dengan pemikiran Feminism barat. Pemikiran Kartini hanya sebatas protes terhadap kedudukan wanita Jawa, dimana pada umumnya mereka selalu diposisikan secara minor. Dalam surat-suratnya, RA Kartini bercerita tentang kenestapaan yang dialaminya sebagai seorang anak wanita dari seorang bangsawan Jawa. Ayahnya adalah Bupati Jepara, yang menikah secara poligami, dan menjadikan ibu kandungnya sebagai istri kesekian, bukan istri utama. Ia punya beberapa saudara laki-laki, dan ia ditempatkan sebagai makhluk kelas dua, dan terpaksa dipingit (diharuskan di dalam rumah) ketika menginjak usia dewasa. Dan siap dijodohkan kepada seorang bangsawan lainnya, bila waktunya tiba.
Surat-surat RA Kartini tersebut diduga ditulis ketika beliau masih remaja, cenderung mencari jati diri dan cenderung labil. Remaja belum menemukan pemikiran ideologis yang relatif konstan, karena mereka ke depannya harus berhadapan dengan realitas (pengalaman kehidupan) yang nyata. Karena pengalaman kehidupan seseorang selalu bergejolak, tergantung pada usia dan pengalaman hidup yang dimilikinya. Begitu juga RA Kartini yang pada akhirnya, menikah juga sebagai istri keempat dari seorang Bupati Rembang.
Perubahan sikap dan Pemikiran RA Kartini sempat ditentang oleh sejawatnya Stella, yang tidak menerima Kartini yang akhirnya mengambil keputusan menjalankan adat, dinikahkan kepada suami yang usianya jauh lebih tua, dan telah mempunyai beberapa istri. Kartini dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella, tidak terlihat merasa dilecehkan atau ditindas dengan sistem poligami, sebaliknya malah menyatakan bahwa pernikahan dengan suaminya berjalan secara baik. Hal ini membuatnya berselisih paham dengan Stella. Apa yang dipikirkan oleh Stella berbeda dengan apa yang dialami oleh RA Kartini. Stella mempunya cara pandang sebelumnya, entah karena pengalaman atau karena dari bacaan buku atau pemikiran yang diterima dari pihak lain, punya prejudice terhadap kehidupan poligami RA Kartini.
Perdebatan antara RA Kartini dan Stella dalam surat-menyurat terkait kewajiban seorang istri, menjadi pembeda benar antara emansipasi wanita dan pemikiran feminism. Feminisme berasal dari kata feminus yang berasal dari dua bentuk kata, yaitu fei artinya keyakinan, dan minus; artinya kurang, jika digabungkan menjadi kurang iman. Feminism di Barat muncul karena pertentangan dengan gereja di Barat, dan gereja di Barat waktu itu memperlakukan wanita sebagai manusia kurang iman.
Kemunculan Feminisme ini lahir dari kultur barat, tidak dapat didefinisikan secara konstan, karena feminisme tidak lah muncul secara tiba-tiba seperti saat ini, lengkap dengan berbagai konsepsinya. Pada awalnya, sebagai gerakan protes terhadap penindasan wanita, kemudian berkembang menjadi penuntutan hak yang sama di bidang politik dan ekonomi, kemudian berkembang jadi kritik terhadap lembaga keluarga, mereka pada umumnya menolak posisi wanita saat ini adalah kodrat. Artinya seorang wanita bila perlu menghilangkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga, mengandung, melahirkan, menyusui, dekat dengan seorang anak. Perempuan juga punya hak untuk berkarir di luar rumah, termasuk dalam menghilangkan kewajibannya sebagai pengasuh anak. Mereka membela apapun yang dilakukan oleh perempuan, termasuk dalam melacur atau menggugurkan bayi dalam perutnya. Karena kebebasan perempuan lah yang menentukan dirinya sendiri, tidak ditentukan oleh kodratnya.
Kaum feminis punya penafsiran terhadap realitas yang berbeda dengan orang pada umumnya. Mereka pada umumnya berlebihan dalam melihat kehidupan rumah tangga normal, dimana seorang perempuan mengasuh anak yang masih kecil di rumah, sedangkan sang suami pergi mencari nafkah. Dalam penafsiran orang pada umumnya, hal ini sebagai perwujudan pembangunan rumah tangga lewat pembagian kewajiban yang didistribusikan secara berbeda antara suami dan istri, untuk menggapai tujuan rumah tangga. Sedangkan dalam penafsiran kelompok feminis, hal ini berarti penindasan kepada kelompok perempuan atau mereka menyebut dengan kelompok perempuan dikurung di dalam rumah, dan harus tunduk pada aturan (adab) yang diberlakukan kepada mereka. Tak ayal, dalam pemikiran feminism liberal, institusi keluarga selalu sasaran kritik kelompok ini.
Mereka terkadang menafsirkan secara realitas secara sangat radikal, lewat pendekatan biologis, dengan apa yang mereka katakan sebagai gender. Dalam pemikiran gender, mereka tidak menerima dalih-dalih factor ilmiah atau perbedaan biologis antara lelaki dan perempuan, sebagai penentu status mereka, seperti wanita hendaknya hamil, menyusui, dan mengasuh bayi. Menurut mereka, itu bukan terjadi karena factor alamiah, melainkan hasil konstruksi social yang harus dihapus. Feminisme muncul di Barat, sebagai ekspressi penentangan terhadap realitas sosial, yang memberikan privilege kepada pihak lelaki. Di bidang pemikiran keagamaan, mereka juga memunculkan beberapa gerakan, seperti mewacanakan wanita untuk ditahbiskan sebagai seorang pastur, sedangkan dalam pemikiran Islam, mereka menolak keharusan imam sholat dipimpin oleh seorang lelaki, seperti pemikiran Fatimah Mernissi.
Emansipasi wanita sebagaimana diusung oleh kelompok feminisme tersebut jelas berbeda dengan emansipasi wanita dalam islam. Emansipasi wanita oleh kelompok feminism muncul dari sejarah kebudayaan barat, yang berbeda dengan kebudayaan bangsa kita. Feminism di barat muncul dari budaya liberalisme, dimana ukuran benar atau salah tidak tergantung pada nilai-nilai yang diyakini bersumber dari Tuhan, melainkan dari kebebasan dirinya sendiri, atau sering disebut dengan anthroposentrisme. Sedangkan dalam pandangan Islam, segala nilai-nilai bersumber dari Tuhan lewat wahyu yang diturunkan lewat para nabinya. Perbedaan paradigm ini lah yang membedakan antara feminisme dengan islam. Sebagai akibatnya, angka perceraian meningkat di dunia Barat, akibat pemahaman emansipasi wanita yang salah ini.
Menurut laporan Majalah Time berdasarkan sebuah penelitian, dalam rentang tahun 1980 – 1990’an, 1 dari 4 wanita karir dan berlatar pendidikan perguruan tinggi, tidak memiliki anak. Angka tersebut sekarang kemungkinan besar bertambah. Dunia Barat juga dihadapkan dengan menurunnya angka kelahiran bayi mereka, kondisi berbalik dengan apa yang terjadi di Negara-negara berkembang.
Pemikiran Feminisme terhadap emansipasi wanita, berbeda dengan pemikiran emansipasi wanita dalam Islam. Emansipasi wanita menurut ajaran agama Islam tidak bersumber pada kebebasan bertindak atau berekspressi. Dalam Islam, emansipasi wanita diarahkan untuk memenuhi kewajiban ilahiyah. Respon wanita terhadap ketidakadilan yang dialami oleh wanita, harus dibatasi apakah kebebasan wanita tersebut sesuai atau tidak dengan ketentuan dalam islam.
Islam mengatur kedudukan wanita lewat beberapa fungsi berdasarkan kodratnya. Yang pertama, adalah sebagai ibu. Wanita diperbolehkan bekerja di luar rumah, dengan ketentuan tidak melalaikan tugasnya sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Ia juga dituntut untuk melahirkan generasi-generasi berikutnya. Ibu adalah wali utama dari anaknya, karena di bawah kaki dan ridhanya lah terletak semua ridha Allah. Dalam Surat Luqman ayat 14 dijelaskan;
Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku , hanya kepada Kulah kembalimu." (Luqman 14)
Peran kedua, bagi seorang wanita adalah sebagai seorang istri dari suaminya. Dalam Islam, ketaatan seorang anak kepada ibunya, dan ketaatan seorang istri kepada suaminya. Seorang wanita dapat beraktivitas apapun, selama hal itu atas izin dari suaminya, sebagai Imam keluarga. Tetapi wanita boleh memprotes kepemimpinan suaminya, jika dirasa suaminya bertindak berdasarkan hawa nafsunya dan bertentangan dengan nilai keislaman, atau bertentangan dengan visi keluarga. Dalam visi Keluarga, seorang suami harus memenuhi kebutuhan lahir dan batin sang istri. Keseimbangan dalam keluarga ini lah yang jadi ciri khas ajaran Islam, yang tidak ditemukan dalam pemikiran feminisme liberal.
Seorang anak wanita yang belum mendapatkan pasangan, meletakkan kewalian mereka di bawah pengasuhan orang tua. Antara anak lelaki dan anak perempuan, mereka punya posisi yang sama, meski hak dan kewajiban yang dimiliki oleh keduanya berbeda. seorang anak perempuan juga diperbolehkan untuk keluar rumahnya, selama diizinkan oleh walinya. Allah SWT berfirman : " Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereke menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya."(At Taubah 71). Dalam sejarah, ditemukan banyak sahabat wanita yang punya aktivitas dakwah, seperti Ummu Athiyah, Ummu Imarah, Ummu Yasir (Sumayyah), bahkan Aisyah binti Abu Bakr, memimpin perang Jamal.
Aktivitas di luar rumah tersebut dibatasi dengan batasan syara’, dan hal ini juga berlaku atas diri kaum lelaki. Mereka diutamakan untuk berkumpul dengan sesame perempuan, atau diutamakan pula bersama muhrimnya. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat seperti minum khamr, berzina, berduaan dengan seorang lelaki bukan mahram, dan seterusnya.
Apa yang dilakukan oleh RA Kartini, adalah representasi dari emansipasi wanita yang sesuai dengan ajaran Islam dan nilai kebangsaan. RA Kartini seorang yang bersedia menikah (walaupun dengan sistem poligami), beraktivitas dengan izin suaminya, bahkan melahirkan seorang anaknya, (beliau meninggal sesudah melahirkan).
Muamalah
RA Kartini adalah satu-satunya wanita yang hari kelahirannya
diperingati di seluruh penjuru. Beliau adalah tokoh emansipasi wanita ternama
di Indonesia. Meski bukan yang pertama dan terbesar, tetapi RA Kartini dapat
dikatakan sebagai representasi pemikiran dari wanita terpelajar.
RA Kartini lahir pada
tanggal 21 April 1879 di Jepara. RA Kartini adalah anak dari Raden Mas Adipati
Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Sebagaimana kebiasaan masa lampau bangsawan
Jawa, seorang bangsawan memiliki banyak istri. Di antara banyak istri tersebut,
seorang suami menunjuk salah seorangnya sebagai ‘istri utama’nya. begitu juga
dengan ayah Kartini. Ibunya adalah istri pertama, tetapi bukan lah ‘istri
utama’.
Gelar bangsawan ‘Raden Adjeng’ didapat dari darah ayahnya.
Gelar tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki trah (darah) kraton, yaitu
Hamengkubuwono VI, Raja Mataram Yogyakarta yang berkuasa antara tahun 1855 –
1877. Sedangkan ibunya, Ngasirah, berasal dari kalangan Santri. Makanya, meski
menyandang sebagai istri pertama, ia bukan lah istri utama. Pada masa lampau,
dalam sistem hokum feudal belanda, seorang bangsawan memiliki banyak selir,
dengan seorang istri (atau permaisuri).
Zaman tersebut hokum Belanda mengharuskan seorang bangsawan
beristrikan seorang bangsawan. Kartini bukan lah jenis pahlawan yang berada di
tengah kelompok tertindas, lalu membela mereka lewat perjuangan fisik,
sebagaimana pahlawan lainnya. Meski demikian ia berperan besar lewat
tulisan-tulisannya. Pemikiran seorang wanita di masa ketika sistem stratifikasi
social dijalankan secara ketat.
Kartini beruntung berada dibesarkan di tengah keluarga
bangsawan, dengan mendapat fasilitas yang tidak dapat diakses oleh rakyat
kebanyakan. Sehingga Kartini mempunyai pendidikan yang bagus, dan dapat
berbahasa asing dengan baik, karena interaksinya yang intens dengan
pejabat-pejabat Belanda. Dalam situasi keadaan social demikian, pemikiran dalam
tulisan RA Kartini berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama kaum
wanitanya.
Sebagaimana anak kaum bangsawan lainnya, Kartini mendapatkan
kesempatan belajar di sekolah yang orang Eropa yaitu di ELD (Europese Lagere
School) untuk pendidikan dasarnya. Tetapi sebagaimana wanita lainnya, ia harus
dipingit (harus tinggal di rumah) ketika usia 12 tahun. Meski dipingit bukan
berarti ia tidak memperoleh pendidikan, mengingat keluarga bangsawan dulu dapat
mengoleksi buku, Koran atau majalah buatan Eropa. Penguasaan bahasa penjajah
adalah kelaziman di era bangsawan pada zaman dulu, karena interaksi antar keluarga
bangsawan dan keluarga relative tinggi. Dari sini lah ia dapat belajar sendiri,
selain dapat mempelajari tata krama keluarga bangsawan juga dapat menguasai
literature eropa
Bacaan kartini seperti De
Locomotief, sebuah majalah berbahasa belanda yang diiedarkan oleh
penerbitnya kepada pelanggannya, yang umumnya orang Eropa atau bangsawan
pribumi. Kartini juga membaca bacaan di bidang kultur dan ilmu pengetahuan,
seperti De Hollandsche Lelie. Pada usia belasan tahun ia sudah kontribusi
tulisan di majalah ini. Beberapa buku politik seperti Max Havelar karangan
Multatuli, dan tulisan yang berkaitan dengan feminism juga i abaca, seperti
buku The Romantic Feminis karangan
Geokoop de Jong Van Eek, semua buku tersebut ditulis dalam bahasa Belanda.
Pada masa-masa ini diyakini sebagai masa-masa RA Kartini
rajin berkorespondensi atau saling berkirim surat dengan wanita-wanita Eropa.
Pemikiran RA Kartini tidak hanya emansipasi wanita, tetapi juga perjuangan
wanita untuk mendapat hak kebebasan mereka dalam bersuara. Pemikiran RA Kartini
menitikberatkan pada otonomi wanita, kebebasan bersuara, dan persamaan hokum,
serta pemberian kesempatan yang lebih besar kepada wanita untuk berperan.
Meski wanita yang sangat terpelajar (apalagi untuk ukuran
waktu itu), Kartini dinikahkan oleh orangtuanya kepada Joyodiningrat, Bupati
Rembang, yang berusia jauh lebih tua dan sudah mempunyai tiga orang istri.
Kartini menikah di usia 24 tahun, yaitu pada tanggal 12 November 1903.
Pernikahan ini ‘membawa hikmah’ bagi kartini, karena dengan pernikahan
tersebut, suami RA Kartini, Joyodiningrat, memahami pola Kartini, dan
menyetujui untuk mendirikan sekolah khusus wanita, di teras bagian Timur kantor
Bupati Rembang. Pernikahan ini sendiri berjalan kurang dari setahun, karena
Kartini meninggal pada tanggal 17 September 1904. Atau hanya selisih 4 hari,
dari kelahiran putra satu-satunya. Kartini meninggal di usia 25 tahun, dan
dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.
Usia Kartini yang relative sangat pendek ini tidak
memungkinkan ia berperan langsung secara lebih besar. Pengaruh RA Kartini
berasal dari kumpulan tulisan-tulisan yang dikumpulkan oleh Abendanon. Seorang
menteri Budaya, Agama dan Industri dan Hindia Timur. Abendanon mengumpulkan
surat-surat yang dikirimkan RA Kartini kepada teman-temannya, dan dibuat buku
di bawah judul Door Duisternis tot Licht, atau diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia menjadi “Habis Gelap Terbit lah Terang”. Tulisan ini mendapat
perhatian luas di kalangan feminis Eropa. Setidaknya mereka mulai merubah imej
mereka terhadap wanita Jawa Asli di Jawa. Seorang wanita Jawa yang diimejkan
selalu berada di bawah baying-bayang suaminya, mampu menginspirasi emansipasi
wanita.
Di luar perdebatan apakah benar buku yang dikumpulkan oleh
Abendanon itu benar-benar ditulis oleh RA Kartini atau tidak, buku tersebut
menginspirasi peranakan Eropa di awal Abad ini mendirikan beberapa yayasan,
seperti pendirian Sekolah “Kartini” di Semarang pada tahun 1912, lalu diikuti
dengan pendirian sekolah wanita di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, serta
daerah-daerah lainnya. Nama RA Kartini semakin dikenal, setelah Soekarno
menetapkan tanggal 21 April sebagai ‘Hari Kartini’ pada tahun 1964.
Muamalah
In the name of God (Allah), the Most Gracious, the Most Merciful.
This article begins in the same way Muslims begin with
many undertakings. Before commencing even the most mundane tasks of life,
eating, drinking, dressing, or bathing, a Muslim will turn his efforts into
worship by mentioning the name of God. He (God) is the Most Gracious and the
Most Merciful, His mercy encompasses all things, and is the source of all the
compassion and mercy that exist. God says to us in the Quran, “My Mercy
embraces all things...” (Quran 7:156)
------------------
Dengan nama Allah, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Artikel
ini dimulai Dengan cara yang sama muslim memulai banyaknya aktivitas
(yang dilakukannya). Sebelum memulai (sesuatu), bahkan dari pekerjaan
paling biasa dalam kehidupan seseorang, (seperti) makan, minum,
berpakaian, atau mandi, seorang muslim akan mengubah usahanya menjadi
peribadatan, Dia (Tuhan) adalah Maha pemurah lagi Maha Penyayang,
kasihnya meliputi segala sesuatu, dan sumber dari segala semua kasih dan
kemurahan yang ada. Tuhan berfirman kepada kita dalam al Qur'an
"Kasihku mencakup segala sesuatu " (al Qur'an Al A'raf : 156)
--------------------
From
the sayings of Prophet Muhammad, we know that when God decreed the
creation He said, “…and My Mercy overcomes My Wrath.” ( Saheeh Bukhari
and Muslim) What exactly is mercy? The dictionary defines it as
disposition to be kind and forgiving, and the feeling that motivates
compassion.[1] The Arabic term for mercy is rahmah and two of the most
important names of God derive from this root word. Ar Rahman ( the Most
Gracious) and Ar Raheem – (the Most Merciful). The Mercy of God is
that ethereal quality that embodies gentleness, piety, care,
consideration, love and forgiveness. When these qualities are
observable in this world, they are a mere reflection of God’s mercy
towards his creation.
---------------------
Dari Sabda Nabi Muhammad, kita tahu bahwa ketika Allah menetapkan penciptaan Dia berkata, "... dan rasa kasihKU mengatasi kemurkaan-KU." (Shahih Bukhari dan Muslim) .
Apa sebenarnya 'rahmat' itu? (Menurut) kamus mendefinisikan sebagai
'watak untuk bersikap baik dan pemaaf, dan perasaan yang memotivasi
untuk berkasih sayang. Istilah bahasa Arab untuk istilah 'Kasih' adalah
'Rahmah'. Dan dua istilah yang paling penting dari akar kata ini, Ar
Rohman (Maha Pemurah) dan Ar Rahim (Maha Penyayang). Rahmat Allah
adalah sifat halus yang dapat mewujudkan kelembutan, kesalehan,
pemeliharaan, pertimbangan, cinta dan pengampunan. sifat-sifat ini ini
dapat teramati di dunia ini, karena sifat-sifat tersebut tidak lebih
dari refleksi cinta kasih Allah kepada makhluknya.
------------------------------
Prophet Muhammad explained the quality of mercy to his companions, telling them God has one hundred parts of mercy, and has sent down one part to be shared amongst the creation. This is why people are compassionate and kind towards one another and wild animals treat their offspring with gentleness. However, God withheld the other 99 parts to be bestowed upon the believers on the Day of Judgement. (Saheeh Muslim)
---------------
Nabi Muhammad menjelaskan
tentang kualitas kasih sayang Allah kepada para sahabatnya, mengatakan
kepada mereka bahwa Allah memiliki seratus bagian dari rahmatNya, dan
telah menurunkan satu bagiannya untuk dibagikan ke seluruh ciptaannya.
Inilah sebabnya kenapa banyak orang berkasihsayang dan berbuat baik
kepada orang lain. Dan Hewan liar pun dapat dapat memperlakukan anak
mereka dengan kelembutan. Namun, Allah menahan 99 bagian rahmat lainnya,
yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman pada hari kiamat
(Shahih Muslim).
----------------
All of creation shows love and compassion towards one
another with just this one portion of mercy. Humans give willingly to the poor
and needy, families support and love one another, and animals protect their
young. Mercy and compassion generally take into account the need to alleviate
suffering and to spread kindness and joy. Even though this world sometimes appears
to be a dark and gloomy place, the Mercy of God can be seen and felt by those
who ponder and reflect. The rain falls, the sun shines, a child reaches for
her father’s hand and the kitten snuggles into the protective warmth of its
mother. God’s mercy is strong and visible all around us, yet on the Day of
Judgement He will complete this mercy by adding the final 99 parts and
bestowing mercy, love and compassion upon those believers who did righteous
deeds and tried to please God in all their affairs. This concept is awe inspiring;
the mercy of God knows no bounds.
----------------------------
Semua
ciptaan menunjukkan cinta dan kasih sayang terhadap satu sama lainnya,
hanya dengan salah satu bagian dari Rahmat Allah. Manusia memberi dengan
rasa ikhlas kepada orang miskin dan membutuhkan, dukungan keluarga dan
saling mencintai. Dan Hewan melindungi anak mereka. Kasih dan ayang pada
umumnya memperhitungkan kebutuhan untuk meringankan penderitaan dan
menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan. Meskipun kadang-kadang dunia ini
tampaknya menjadi tempat yang gelap dan suram, tetapi Rahmat Allah dapat
dilihat dan dirasakan bagi orang yang merenung dan merefleksikan. Hujan
yang turun, matahari yang bersinar, seorang anak yang meraih tangan
ayahnya, serta anak kucing yang merapat ke hangatnya perlindungan
induknya. Rahmat Allah terasa kuat dan dapat terlihat di sekitar kita,
namun di Hari Kiamat, Allah akan menyempurnakan RahmatNya dengan
menambah 99 bagian terakhir dan menganugerahkan rahmat, cinta, dan kasih
sayang kepada orang-orang yang beriman yang melakukan amal saleh, orang
yang berusaha mencari ridha Allah dalam segala urusan. Konsep ini
adalah inspirasi kekaguman; Kemurahan Allah tidak mengenal batas.
Aqidah - Navigasi - Slide Atas
Pendahuluan
Penyakit hati berbeda dengan
penyakit jasmani, meskipun keduanya menurut ilmu kedokteran terkait satu sama
lainnya. Tetapi ‘Penyakit Hati’ yang akan dibahas ini bukan penyakit yang
menyerang organ hati, seperti hepatitis, melainkan penyakit yang disebabkan
oleh karakter atau sifat, atau dalam keilmuan dinamakan ‘masalah psikis’.
Dalam Islam, masalah psikis lebih
didahulukan daripada masalah fisik (badan/jasad). Sehingga banyak anjuran dan
larangan terkait dengan kesehatan psikis seseorang. Betapa banyak ayat al
Qur’an yang memerintahkan untuk bersabar, ikhlas, tawakkal, bersyukur, dst.
Banyak juga yang melarang kita untuk berdengki, riya’, takabbur, ghibah/fitnah,
dst. Semuanya memang perlu pelatihan mental yang memang berproses.
Dasar
Pemahaman Tentang Penyakit Hati
Istilah ‘penyakit hati’ ini
disebutkan dalam al Qur’an, At Taubah ; 125
“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka bertambahlah
keburukan mereka dari keburukan sebelumnya, dan mereka mati dalam keadaan
kafir.
Penyakit hati jika dituruti
kemauannya, maka akan bertambah pula keburukan dan lebih parah dari sebelumnya.
Ciri demikian juga disebutkan dalam Firman Allah yang lain, seperti dalam Al
Baqoroh : 10
Dalam hati mereka terdapat
penyakit, dan Allah akan menambahkan penyakit ini pula. Dan bagi mereka siksa
yang pedih dengan apa-apa yang telah mereka dustakan.
Hati
memiliki peran yang sentral. Karena dengan hati ini pula sangat menentukan
kemampuannya dalam bercengkerama dengan orang lain. Jika hati tak sehat akan
mempengaruhi buruknya kesehatan sosiologis kita. Meski entitas ‘hati’ berada di
luar dimensi fisik, tetapi dalam perkembangannya sangat menentukan atau terkait
antara satu dengan lainnya.
Fisik yang
tidak sehat, kondisi lingkungan, factor pendidikan, gen, dan sebagainya sangat
menentukan bagaimana pola pikir seseorang. Orang yang mempunyai kemampuan
menata emosional (atau orang ber-EQ tinggi) biasanya lebih stabil dalam
menghadapi stimulasi-stimulasi dari luar, sehingga dapat menyikapinya dengan
sangat tepat.
Hati memang
mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang keji dan terlarang dalam agama,
kecuali hati yang senantiasa tunduk dan patuh kepadaNya. Sebagaimana firman
Allah dalam Yusuf ayat 53;
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Pada ayat di
atas, ‘nafsu’ dapat diartikan lain sebagai ego, keduanya dapat merujuk pada hal
yang sama. Kecenderungan ego, selalu merujuk pada dirinya sendiri. Oleh karena
itu ia bersikap egois, apapun yang dirasa nikmat, maka akan segera ia lakukan.
Maka, nafsu (ego) akan cenderung menyuruh pada tindakan jahat. Oleh karena itu
sangat penting untuk mengetahui dan mencegahnya, agar hati kita diberi rahmat
Allah.
‘nafsu’
dalam ayat di atas adalah hawa nafsu atau keinginan seseorang. Dalam Islam terdapat
perintah untuk melakukan pengekangan terhadap hawa nafsu. Hawa nafsu dalam
kehidupan sehari-hari diwujudkan dengan keinginan-keinginan yang bersifat
pribadi. Seperti dendam, iri hati, marah, benci, dst.
Seseorang yang cenderung
tidak mampu mengendalikan keinginan-keinginan tersebut, maka ia akan selalu
mendapati dirinya benar-benar ‘tidak dapat terpuaskan’. Salah satu penyakit
hati adalah jika seseorang itu merelakan diri diperbudak oleh ‘hati’ (nafsu).
Sebagaimana
firman Allah dalam Al Jatsiyah; 23
Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan
ilmu-Nya. dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Maksud kata ‘ilahahu’ (tuhan) adalah ‘sesembahan’
yang tidak layak disembah (yaitu hawa nafsunya). Artinya seseorang itu tidak
boleh menjadikan hawa nafsunya sebagai petunjuk apa perbuatan yang akan
dilakukannya. Jika hal demikian dilakukan, maka Allah akan menutup semua akal
sehat dan hati nuraninya.
Kesombongan
Salah satu
hal yang lazim ditemukan dalam masyarakat kita terkait penyakit hati ini adalah
‘kesombongan’. Ketika orang diberikan kelebihan nikmat dibandingkan orang
sekelilingnya, maka ia akan tergoda untuk merasa ‘ujub’ terhadap apa yang telah
dilakukannya. Ia membanggakan berapa kekayaan yang dimilikinya (dan
keluarganya), berapa banyak karyawan yang telah ia pekerjakan, dan sebagainya.
Tentang
masalah kesombongan ini, al Qur’an mengingatkan kita tentang kisah seorang
Qarun, seorang kaya raya yang hidup pada masa Nabiyullah Musa as. Seorang yang
diberikan kenikmatan, lantas sombong dan ingkar kepada Allah. Banyak ayat yang
melarang perbuatan sombong seperti dalam Surat al Isra’ ayat 37
Dan Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini
dengan kesombongan. Sesungguka kamu takkan sekali-kali bisa menembus (kedalaman
bumi) dan takkan pernah menyamai tingginya gunung.
“Sombong’
tidak hanya berupa kekayaan, melainkan juga kesombongan dalam hal
‘pengetahuan’. Banyak orang yang mengidentifikasikan masalah sombong ini mereka
‘pagari’ hanya pada pengertian orang-orang yang mampu dan orang yang memiliki
jabatan. Tetapi, kesombongan juga dapat berlaku pada kesombongan pada
‘pengetahuan’ yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka.
Banyak orang
yang ingin menjatuhkan orang lain, untuk menunjukkan dirinya lebih hebat
(pintar) daripada orang yang dijatuhkan tersebut. Model orang seperti ini
banyak kita jumpai. Orang banyak yang berbantah-bantahan, demi untuk
menunjukkan siapa paling mereka yang paling hebat (rasional). Banyak pula yang
menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang lain, demi mengukuhkan opini
bahwa orang yang dibicarakan sama sekali tak paham akan perbuatan.
Padahal
perdebatan ataupun upaya saling menjatuhkan sama sekali tidak menunjukkan
kualitas isi kepala. Hidup ini bukan lah kompetisi, tetapi hidup itu untuk
beribadah kepada Allah. Itu lah filosofis (pandangan) islam terhadap kehidupan
ini yang sering disalahpahami.
Iri Hati
Penyakit
hati timbul karena kurang pahamnya akan filosofis penciptaan manusia. Perlu
diingat bahwa manusia mempunyai batasan atau ‘limited’. Memang benar manusia adalah makhluk sempurna, tetapi
manusia dibuat sangat lah rentan. Secara biologis manusia sangat rentan
terserang bakteri, bakteri dan virus. Sehingga dalam An Nisa : 28, Allah
berfirman bahwa manusia diciptakan dalam keadaan sangat lemah.
Manusia tak
berkuasa terhadap apapun, dimana/kapan ia akan dilahirkan, dengan orangtua yang
mana, apa jenis kelamin kita, apa bakat kita dan bagaimana ia kelak akan
meninggal. Semua manusia dalam posisi yang sama, termasuk di hadapan Allah. Manusia
mempunyai satu kualitas yang tak dimiliki orang lain, begitu juga sebaliknya,
orang lain memiliki kualitas yang tidak kita punya.
Sehingga kita tidak boleh
mengunggul-unggulkan kelebihan kita, karena kelebihan kita (termasuk dalam hal
ini kecerdasan, kecantikan, dan kekayaan) pada hakekatnya milik Allah. Dengan
landasan berfikir seperti ini, maka kita tidak diperkenankan untuk
menyombongkan diri, atau iri terhadap apa yang didapatkan oleh orang lain.
Firman Allah dalam An Nisa’ ayat 32
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang
dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang
lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka
usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah telah
menganugerahi rizki yang berbeda-beda, dari apa yang telah dikerjakan.
Terkadang diberikan bagian yang lebih besar, meskipun jenis pekerjaan yang
dilakukan adalahsama, karena ini semua bagian sudah ditentukan oleh Allah.
Maka, untuk urusan ini, maka perbanyak lah doa kepada Allah, karena Allah
adalah Dzat yang dapat melebihkan (nikmat/bagian).
Secara
emosional, karakter satu pasti mempengaruhi karakter lainnya. Iri hati ada
sangkut pautnya dengan ‘kesabaran’. Jika tingkat kesabaran labil, maka akan
mudah terserang perasaan iri hati. Oleh karena itu dalam banyak ayat disebutkan
perintah untuk bersabar, dalam menerima apapun yang diberikan oleh Allah kepada
kita, termasuk dalam perasaan takut, kekurangan bahan makan, kelaparan,
kekurangan materi, meninggalnya orang yang kita kasihi, dan bencana musim
(kekurangan buah-buahan).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqoroh: 155)
Mengingat
kebaikan, khusnuzhon dan bersyukur adalah ‘sarana’ kita untuk mencegah sikap
dengki. Syukurilah keadaan kita diberikan mata yang normal, bandingkan dengan
orang-orang yang buta. Bersyukurlah atas kondisi kita yang sehat, dibandingkan
dengan orang-orang yang tergeletak lemah, menahan rasa sakit yang sangat
orang-orang yang ada di rumah sakit.
Bersyukur lah atas diri kita sekarang,
karena kita tak dikejar-kejar oleh hutang yang menumpuk. Bersyukurlah atas hari
ini kita diberikan beban yang ringan dibandingkan dengan orang-orang di sektiar
kita. Dengan bersyukur ini, maka akan mendorong kita untuk membantu orang lain
yang benar-benar membutuhkannya.
Tanda orang
beriman adalah orang yang dapat melihat kebaikan di semua hal. Sebagaimana
sabda Nabi Muhammad Saw:
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan
dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada
Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah
diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Apapun
peristiwanya, jika gagal melihat sebuah kebaikan dari setiap peristiwa, maka
akan muncul perasaan ‘, ketakutan, keputusasaan, kesedihan, dan terus menerus
akan mengganggu kestabilan emosional seseorang. Di sini kemudian muncul
penyakit-penyakit hati. Jika seseorang mempunyai perasaan bahwa ia telah gagal
menjalani hidup, maka ia harus berbesar hati, bahwa ia akan mempunyai harapan
lagi, bahwa sisa hidupnya akan ia isi dengan kebaikan, demi memperoleh ridho
Allah.
Setiap orang
mengalami rasa-rasa sulit dalam kehidupannya, yang menyebabkan ia merasa tertekan.
Bahkan tak jarang ia melampiaskannya kepada orang lain. Menjadi pribadi
pendendam (tidak memaafkan orang lain), dan mudah dihinggapi perasaan mudah
marah. Apalagi jika harapannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Jika sesuai,
maka ia akan lupa akan nikmat Allah, tetapi jika gagal, ia akan mengeluh.
Memang begini tabiat penyakit hati, yang sangat beraneka ragam. Dan hal ini
dijelaskan dalam ayat al Qur’an.
Sesungguhnya
manusia diciptakan sangat lah lemah (19), Jika ditimpa kesusahan ia akan
berkeluh kesah, (20), dan jika didatangkan kebaikan, maka ia akan kikir (21) (Al Ma'arij : 19-21)
Pada ayat
selanjutnya diikuti dengan ‘illa
mushollin’ (kecuali orang-orang yang sholat). Jadi sholat ini tidak hanya
diartikan sebagai sholat secara fisik semata, melainkan juga sholat dalam hal
segalanya, termasuk dalam bertawakkal menerima apapun ketentuan Allah.
Bakhil, & Ghibah
Jenis
penyakit hati lainnya adalah kikir (bakhil), dan ghibah (suka bergunjing).
Penyakit kikir dikarenakan takutnya akan mengalami masa ‘paceklik’ di masa
depan. Orang kikir termasuk orang kalkulatif.
Tetapi mereka lupa memasukkan ‘catatan akhirat’ dalam sistem kalkulator mereka.
Kikir itu adalah tabiat yang hasil didikan sehari-hari. Jika penyakit ini ada,
tidak hanya diperlukan teori, melainkan juga kebiasaan. Karena sebagai tabiat,
sangat sulit untuk mengubahnya.
Kikir adalah
tanda bahwa seseorang sama sekali tak mempunyai rasa empati. Ia tak tahu
bagaimana perasaan orang lain, tidak tahu kepentingan orang lain, yang ia tahu
adalah kepentingan dan kejayaan dirinya sendiri. Orang-orang semacam ini sangat
berpotensi untuk kikir. Mereka orang yang tak mau menolong orang yang
benar-benar membutuhkannya. Pekerjaannya adalah karir, prestasi pribadi dan
kekayaan. Dalam surat At Taubah ayat 35, Allah Berfirman;
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam
neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung
mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu
simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang
kamu simpan itu."
Entah itu kikir atau ghibah adalah pekerjaan pembentuk tabiat
yang diakibatkan kurang dimiliki rasa empat terhadap orang lain.
Ghibah ini adalah model maksiat
‘terselubung’. Karena orang yang berghibah kebanyakan tidak tahu bahwa mereka
tengah melakukan dosa besar. Bahkan parahnya lagi, banyak yang menganggap
‘ghibah’ atau bergunjing ini sebagai ‘ibadah. Mereka sibuk melabeli ‘setan’
kepada orang lain, sedangkan diri mereka sendiri sebagai kumpulan ‘orang-orang
wajar’. Tak jarang, saking asyiknya
berghibah, seseorang itu berkata ‘mungkin’ untuk menambahi bumbu-bumbu, bahkan
melebih-lebihkan, agar sama-sama enak didengarkan. Sehingga jatuhnya adalah
fitnah.
Secara psikologis, orang
bergunjing dapat memuaskan andrenalin, menumbuhkan hormone endorphin (hormone yang dikeluarkan waktu keadaan
senang/santai), makanya dalam bergunjing ini mereka menemukan kepuasan diri
mereka sendiri. Tetapi di sisi lainnya, akan mematikan karakter orang lain.
Ghibah menyebabkan seorang yang tadinya tidak membenci menjadi benci. Yang
sebelumnya benci, menjadi ‘sangat benci’. Orang bergunjing akan mendapat
kesenangan, sebaliknya orang yang digunjing akan jadi korban. Allah
mengibaratkan orang berghibah seperti seseorang yang tengah menikmati makan
bangkai saudaranya sendiri. Dalam ayat al Qur’an Al Hujurat ayat 12 disebutkan;
Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.
Penyakit
‘Ghibah’ ini adalah jenis penyakit empati. Penyakit ini dapat diobat jika ia
melatih diri untuk merasakan sebagai pihak yang selalu dirugikan oleh ghibah. Ia
harus dapat membayangkan jika ia berada dalam posisi sebagai orang yang
dighibahi: “Apapun yang ia lakukan selalu buruk di mata orang lain, hingga
suatu saat ia mendapati seseorang tiba-tiba merasa tak menyenanginya, meskipun
ia sama sekali tak melakukan kesalahan apapun terhadapnya”. Konflik social
apapun, selalu diawali dengan ‘ghibah’.
Riya’
Sedangkan Riya’,
adalah model penyakit hati, dimana rasa keikhlasan atau ‘kelillahita’ala’an
kita berkurang. Ibadah atau segala amalan kita harusnya orientasinya kepada
Allah, tetapi ini orientasinya kepada orang lain. Inilah sikap riya’.
Sikap
riya’ mudah terserang kepada orang yang egosentrime atau menempatkan tujuan
kemuliaan dirinya sebagai pusatnya. Ia datang ke pengajian memakai minyak
wangi, rapi, bersih, tetapi semuanya tak ditujukan kepada Allah, tetapi
ditujukan ke lawan jenis, siapa tahu banyak yang tertarik kepada dirinya. Jadi
sikap ini sangat rentan dilakukan oleh pemuda/remaja. Bukan berarti orang tua
bersih dari sikap ini.
Kepintaran
kita seharusnya ditujukan kepada Allah, dengan memanfaatkan ilmu yang kita
miliki untuk orang banyak, kita manfaatkan/orientasikan untuk memuliakan diri
kita. Kita merasa ujub jika dibilang berprestasi, berilmu, walaupun ilmu itu
sama sekali tak kita gunakan. Kita tak berfikir ilmu itu berguna atau tidak di
hadapan Allah, tetapi kita berfikir ilmu itu kira-kira ‘keren’ atau kagak jika
dipelajari.
Dalam
sedekah juga tak lepas dari riya’, karena dengan sedekah yang dilihat banyak
orang kita akan lebih terlihat berwibawa, apalagi jika disertai dengan hardikan
kepada penerima sedekah kita, maka betapa puasnya nafsu kita, dan betapa
runyamnya hati sang penerima. Hal ini terlaknat, sebagaimana firman Allah dalam
Al Baqoroh ayat 264
Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya
karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir
Allah
melabeli orang-orang riya’ dalam ayat di atas dengan ungkapan ‘kafirin’, karena
orang yang berbuat riya’ merasa tidak adanya Allah yang dapat melihat hati dan amalan mereka. Sehingga mereka bisa
berbuat sewenang-wenang. Begitu juga dengan Sholat, sholat juga salah satu
ibadah yang berpotensi riya’. Seperti misalnya sholat untuk ‘wangun-wangun’ atau demi kepantasan, itu
jelas tak boleh, karena itu sama seperti sholat dengan tujuan agar terlihat
oleh orang lain (sebagai tujuannya untuk sholat). Hal demikian terlarang,
sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ma’un 4 - 7;
Maka celakalah bagi orang-orang
yang sholat, yaitu orang-orang yang melalaikan sholatnya, orang-orang yang
berbuat riya’ dan orang yang tidak memberi (bersedekah) harta yang berguna. (Al Ma'un 4-7)
Urusan riya;
itu adalah urusan hati, sehingga hal ini sangat sulit, kecuali jika seseorang
benar-benar melakukan sholat, yaitu sholat yang didasarkan dengan niat ‘lillahi
ta’ala’. Saking hati-hatinya ulama pada waktu lampau, mereka
menganjurkan untuk membaca dengan sir (diucapkan dengan mulut secara perlahan) ‘nawaitu fardho sholat … lillahi ta’ala’.
Agar sholat yang ia kerjakan, semata-mata karena Allah semata. Begitu juga
dengan amalan-amalan kebajikan lainnya. Karena jangan sampai, kita beribadah
kepada Allah, terselip dalam hati kita untuk melakukannya tidak demi Allah,
melainkan demi dilihat, atau agar sekedar seseorang terlihat sebagai seorang
yang ‘humanis’.
Penutup
Jenis
penyakit hati apapun karena hilangnya ‘Tauhid’ pada diri seseorang. Tauhid
artinya meletakkan Allah sebagai pusat segalanya, dan menempatkan diri hanya
sebagai hambaNya. Orang Sombong tidak merasa kemampuannya adalah pemberian
Allah dan sewaktu-waktu akan kembali pada Allah, bukan melekat abadi pada
dirinya. Orang riya’ lupa bahwa orientasi hidupnya bukan pada diri sendiri,
melainkan pada Allah, dan hilangnya rasa ikhlas lillahi ta’ala dalam dirinya.
Orang hasad lupa bahwa pemberi dan pembagi rizqi, nikmat, atau fadhilah hanya Allah semata, bukan
didasarkan pada kemauan kita. Sedangkan orang bakhil hanya ingat bahwa harta
benda secara hakiki adalah miliknya, bukan milik Allah, sehingga merasa tak
punya kewajiban untuk bersedekah di jalan Allah. Sehingga obatnya adalah
memahami dan melaksanakan Tauhidullah.
akhlaq - Navigasi
Langganan:
Postingan (Atom)





Recent Comments