Select Menu

Slider

Travel

Performance

‹
›

Cute

My Place

Slider

Racing






Wanita adalah bagiam terbesar dari populasi manusia. Jumlah wanita di tiap Negara selalu lebih dari 50 persen penduduk. Pengaruh wanita terhadap Negara tidak boleh dianggap sebelah mata. Di sisi lainnya hubungan antara pria dan wanita sangat diatur dalam islam, seorang wanita tidak boleh berbaur sembarangan dengan pihak lelaki. Hal ini berbeda dengan etika barat, yang tidak mengatur masalah demikian. Sehingga, emansipasi wanita dalam Islam berbeda dengan emansipasi wantia lewat sudut pandang barat.
Kesetaraan dalam islam berbeda dengan prinsip kebebasan atau liberalism di Barat. Dalam pandangan kelompok liberalisme, seorang wanita dapat melakukan apa saja, termasuk di luar ketentuan syariat. Hal ini jelas berbeda dengan Islam, emansipasi berangkat dari pemahaman bahwa kedudukan wanita dan pria di mata Allah adalah setara. Meskipun, keduanya mempunyai kewajiban yang tidak sama, sebagaimana kewajiban mereka dalam rumah tangga. Kewajiban  seorang suami jelas berbeda dengan kewajiban seorang istri. Dalam ayat al Qur;an disebutkan ;

 “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Dalam firman Allah lainnya dinyatakan;

QS. Al-Ahzab : 35, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar”.


Dalam ayat di atas, kedudukan manusia baik itu lelaki dan perempuan sama, meskipun dengan bentuk ketaatan yang berbeda antara keduanya. Mereka harus sama-sama tunduk pada perintah Allah. Mengerjakan amal sholih agar mendapat ridha Allah, dan memperoleh semua balasan baik di dunia maupun akhirat. Sedangkan dalam sudut pandangan orang barat, emansipasi wanita diartikan sebagai emansipasi wanita secara mutlak, bahkan sebagian mengartikan sebagai bebasnya seorang wanita dari tuntutan nilai-nilai agama maupun adat.

Emansipasi dalam islam jelas berbeda dengan emansipasi dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM). Misalnya, dalam Islam, jilbab adalah anjuran agama yang ditujukan kepada wanita. Sedangkan dalam perspektif feminism, jilbab diartikan sebagai pengekangan seorang wanita. Kewajiban taat seorang istri kepada suami, dalam islam diartikan sebagai anjuran yang diasalkan dari perintah Allah dan rasul. Tetapi tidak demikian dalam perspektif Barat, ketundukan istri kepada suami dianggap sebagai penindasan dari system social patriarchal.
Emansipasi wanita dalam islam juga tidak diartikan sebagai pembatasan secara semena-mena terhadap hak-hak wanita. wanita tetap diperbolehkan bekerja, selama itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Wanita juga tidak dilarang untuk terlibat dalam dunia social, selama hal itu tidak menimbulkan fitnah dan harus menghindari diri dari tata pergaulan yang sudah keluar dari koridor syariat.

Batasan ini tidak hanya dikenakan kepada pihak wanita belaka, melainkan juga pada pihak lelaki. Seorang lelaki harus dituntut untuk bertanggungjawab kepada istri dan anak-anak mereka, melebihi beban yang ditanggung oleh istri. Dalam Islam, seorang istri bertanggungjawab penuh kepada anak. Sedangkan pihak suami, bertanggungjawab penuh kepada pihak istri. Sehingga terjadi keseimbangan antara hak pria dan wanita dalam Islam, yang tidak dapat ditemukan dalam emansipasi oleh kaum feminis.

Kaum feminis biasanya menafikan adanya fakta perbedaan mendasar antara pria dan wanita. bagi mereka, perbedaan gender itu hanyalah konstruksi social belaka. Sedangkan islam memandang bahwa perbedaan gender adalah fitrah dan ketentuan oleh Allah yang mesti diterima oleh setiap manusia. Dan manusia harus lah berjalan atas fitrahnya tersebut. Hak dan kewajiban antara pria dan wanita berbeda, karena mereka punya kodrat yang berbeda. Dari perbedaan kodrat tersebut, maka menimbulkan hak dan kewajiban yang berbeda pula.

Kodrat seorang istri adalah untuk melahirkan, karena secara biologis mereka mmepunyai rahim dan sel-sel kewanitaan yang berfungsi untuk melahirkan dan menyusui. Hal ini tidak mungkin dikerjakan oleh pihak pria. Sedangkan tuntutan untuk bekerja dan bertanggungjawab pada kehidupan mereka dimiliki oleh seorang lelaki. Kita tidak boleh memandang pada zaman sekarang, pada zaman dahulu, kekuatan fisik sangat menentukan penghasilan seseorang, dan hal ini kurang memungkinkan dilakukan oleh kelompok wanita. mereka tak mungkin untuk mengejar buruan dan berperang untuk melindungi keluarganya.

Pengertian qowwam dalam Ar Rijaalu qowwamuuna alan nisa’ tidak boleh diartikan sebagai pihak lelaki harus berlaku semena-mena, tetapi diartikan sebagai tanggungjawab penuh di tangan seorang lelaki. pada zaman modern ini, seorang wanita dapat melakukan pekerjaan mereka atau meniti karir sesuai dengan bidang pendidikan mereka. Tetapi hal tersebut harus lah atas izin suaminya, dan suaminya wajib mempertimbangkan berdasarkan akal sehatnya. Dari sini kita dapat melihat keseimbagnan antara lelaki dan perempuan dalam Islam.






Seranngan Oemoem 1 Maret sebagaimana nam nya terjadi pada tanggal 1 Maret tahun 1949, di Yogyakarta. Serangan ini punya makna yang sangat dalam bagi berlangsung nya Republik Indonesia. Sebagaiman diketahui setelah terjadi Agresi Militer yang dilakukan oleh Belanda, dan para pemimpn bangsa ditangkap dan dibuang oleh pihak Belanda, nyaris pemerintahan Indonesia dianggap dunia internasional sudah tidak ada. Serangan ini untuk membuktikan di dunia internasional, bahwa Negara Indonesia juga masih eksis, memiliki kesatuan tentara dan rakyat yang berjuang demi bangsa nya. Salah satu pemimpin dari serangan ini adalah Soeharto, yang kemudian kita kenal sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua, setelah Presiden Soekarno.
Usaha Kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dari perjuangan Ummat Islam. Organisasi yang dikenal kritis sejak awal adalah Organsiasi Sarekat Islam. Ulama juga berjuang memimpin sebuah pemberontakan terhadap pemerintahan Kerajaan Belanda, seperti yang dilakukan oleh para ulam yang berdiri di belakang Perlawanan Pangeran Diponegoro atau Pemberontakan Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid di Cilegon. Banyak perlawanan terhadap Pemerintahn Hindia Belanda, yang dilakukan oleh ulama, tetapi sebagian besar dari mereka tidak banyak direkam dalm sejarah perlawanan. Mereka gigih membela tanah air dan bangsanya.  Dari perjuangan-perjuangan ini, kita dapat menarik nilai-nilai apa ayang terkandung di dalamnya, yaitu nilai nasionalisme.
Salah satu dalil yang dihafal oleh kaum muslimin adalah hubbul wathoni minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman.  Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.
“Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:
 “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah SAW. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah SAW berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.
, “Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.
Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya”Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.



Robiul Akhir merupakan seperempat kedua dari kalender hijriyah, oleh karena itu selain disebut dengan Robiul akhir juga disebut dengan bulan Robi’uts Tsani. Bulan ini adalah bulan keempat dari system penanggalan Hijriyah, sesudah Robiul Awwal dan sebelum memasuki bulan Jumadil Awwal. Terdapat beberapa peristiwa penting di Bulan ini.

Salah satunya adalah Percobaan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad dengan menggunakan batu yang dilakukan oleh sekelompok dari Bani Nadzir di Kota Madinah. Peristiwa ini terjadi di bulan RObiul AKhir di tahun ketiga HIjriyah.  Selain itu terdapat banyak peristiwa di masa ini diantaranya yaitu  perang Najran(pengusiran bani Nadzir), perang Al Ghabah(disebut Al Ghobah karena penyerangan oleh Unaynah bin Hizn Al Farisi orang Ghatafan terhadap unta-unta milik nabi di Al Ghabah. Perang ini juga disebut perang Dzi Qarad, terjadi pada 6H ), perang al Ghamar(untuk menyerang kabilah Bani Asad yang dipimpin oleh Ukkashah bin Mishan)

Demikian beberapa peristiwa yang terjadi pada bulan Robiul Akhir. Adapun dalam banyak sumber mengatakan bahwa wafatnya Abu Bakar Ash Shiddiq serta wafatnya Imam Al Ghazali adalah pada Bulan Rabiul Akhir adalah salah. Karena dari sumber yang lebih terpercaya, wafat kedua tokoh tersebut adalah pada Jumadil Akhir.

Bulan  banyak sekali terjadi perang. Sampai Asbabun Nuzul diturunkannya Al Hasyr adalah karena penghianatan yang memicu perang, Mulai dari masa Rasulullah sampai peristiwa setelah Rasulullah wafat. Sehingga pada bulan ini hendaknya kita memperbanyak diri dalam mengingat Allah dan meningkatkan ketakwaan serta menjadi pribadi yang mencintai kedamaian.
Keutamaan bulan Robiul Akhir ini adalah mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa perang sehingga membantu kita meningkatkan rasa cinta pada sesama. Untuk itu, keutamaan yang harus kita kerjakan pada bulan ini adalah:

1. Melaksanakan perintah yang wajib dengan lebih giat
Seperti dalam firman Allah surat Ar Ro’du ayat 11:
“Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu merubah dirinya sendiri.”
Maksudnya adalah bahwa mningkatkan diri dalam melaksanakan perintah wajib seperti shalat wajib, puasa Ramadhan, Zakat dalam islam, dan lainnya adalah datang dari diri sendiri. Untuk diri sendiri yaitu memenuhi kuwajiban serta menjauhkan diri dari kufur. “sesungguhnya solat menjauhkan dari kufur”(al hadits)

2. Memperbanyak shodaqoh
Karena dalam bulan ini banyak terjadi perang dan mengingatkan kita tentang perang, maka sebaiknya kita mulai membangun rasa cinta kepada sesama dengan meningkatkan shodaqoh amal jariyah kita. Adapun shodaqoh sebaiknya kita berikan kepada Fakir Miskin, anak Yatim, orang yang berjuang di Jalan Allah, orang yang terlilit hutang, dan orang yang sedang bepergian. Selain itu kita juga dapat menyumbangkan sebagian harta kita untuk Jariyah. 

Jariyah adalah ibadah yang pahalanya akan terus mengalis meskipun kita telah mati seperti memberikannya pada Masjid, Sekolah berbasis Islam, Musholla, Tempat pengajian dan lain-lain. Sehingga ketika tempat-tempat tersebut masih dipergunakan untuk solat, kajian, menuntut ilmu, maka pahala dari jariyah kita tidak akan putus meskipun kita telah mati. 

3. Perbanyak melaksanakan solat Berjamaah
Solat berjamaah selain memiliki keutamaan sholat berjama’ah menambah pahala kita dua puluh tujuh derajat juga membuat kita lebih sering bersosial. solat berjamaah juga meningkatkan rasa solisaritas kita terhadap sesama muslim. Seorang Ulama pernah berkata bahwa Kaum Yahudi sangat mengetahui kehancuran Islam adalah ketika sedikitnya muslim yang berjamaah solat subuh. Dan Masya Allah, jamaah solat subuh pun dikebanyakan tempat memang semakin berkurang tiap tahunnya.

4. Memperbanyak membaca doa tolak balak
Doa ini dimaksudkan untuk menghindari diri dari balak atau musibah. Doa ini berbunyi:
“Allahumma Ya Kaafiyal Bala’, Ikfinal Bala’, Qobla nuzulihi minas sama’ Yaaa Allah.”
Atau doa ini:
“Allahumma idfa’ anna Al gholaa’a, wal balaa’a, wal wabaa’a, wal fakhsyaa’a, wal munkara, was suyufal mukhtalifata, wasy sydaaida wal mikhana ma dhoharo minha wama bathona min baladina haadza khoshotan wa min baldani muslimiina Amatan innaka Ala kulli syai’in Qodiir.”
Artinya:
“Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan-cobaan hidup, penyakit-penyakit wabah, perbuatan keji dan mungkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun yang bathin, di negri kami pada khususnya, dan umumnya di negri orang-orang muslim, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

5. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah
Takwa yang dimaksud adalah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Memjauhi larangan Allah lah yang terasa sulit jika kita tidak terbiasa melakukannya seperti menghindari zina dalam islam. Makanya, ada bermcam-macam manusia. yang pertama manusia yang melaksanakan perintahNya dan tidak menjauhi laranganNya, yang tidak melaksanakan perintah dan tidak menjauhi laranganNya, dan yang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan sangat jarang sekali.



Hari Ibu dalam Peradaban Kuno
Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Hari Ibu dibedakan dengan Hari Kartini atau Hari Emansipasi Wanita. Hari Ibu diperingati sebagai Hari pengabdian seorang wanita dalam kedudukannya sebagai Ibu, yang berperan sangat penting dalam kehidupan setiap orang. Sehingga, peringatan Hari Ibu diperingati oleh orang sedunia, tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Di Luar Negeri, peringatan Hari Ibu disebut dengan nama Mother’s Day

Menurut sebagian orang, Hari Ibu yang diperingati di Indonesia berbeda dengan Mother’s Day. Dilihat dari asal muasalnya, peringatan Mother’s Day di Barat, pada mulanya sebagai bentuk penyembahan kepada para dewi. Karena pada masa dahulu kala,  di banyak peradaban , sosok Ibu banyak dijadikan rujukan sesembahan. Seperti sesembahan Black Madonna,  Dewi Rhea di Peradaban Yunani, Dewi Gangga di Peradaban Tanah Hindustan,  Isis di Peradaban Mesir Kuno, dan sebagainya. Di Eropa pada abad ke 16, peringatan Hari Ibu diperingati bukan sebagai Hari pengabdian yang ditujukan kepada sosok Ibu, melainkan berdasarkan dogma agama, yaitu terkait pada Bunda Maria. Meskipun pada mulanya adalah peringatan berdasarkan kepercayaan agama, tetapi perayaan ini berkembang melepaskan diri dari kepercayaan pagan (penyembah berhala).

Peringatan Hari Ibu Nasional
Peringatan Hari Ibu yang diaksanakan di Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa seorang Ibu dalam pengabdiannya melayani keluarganya dan membesarkan anak-anaknya. Berbeda dengan di luar negeri yang diperingati serempak oleh beberapa Negara. Seperti beberapa Negara di timur tengah memperingati Hari Ibu di tanggal  21 Maret, di antaranya adalah Arab Saudi,  Mesir,  Yordania, Palestina, Libya, Uni Emirat, Lebanon, dst. Dan pada tanggal 8 Maret di Negara-negara Eropa Timur, seperti Rusia, Rumania, Serbia, Bosnia, Kazastan, Armenia, Bulgaria, dst. Serta tanggal 9 Mei, yang diperingati oleh lebih dari 70 Negara yang memperingati Mother’s Day. 

Peringatan Hari Ibu oleh Negara Indonesia berasal dari Konggres Perempuan Indonesia, yang jatuh pada tanggal 22 sampai tanggal 25 Desember 1928. Dan berdasarkan Dekrit Presiden Soekarno No. 316 tahun 1953, meresmikan tanggal pelaksanaan konggres tersebut sebagai Hari Ibu Nasional.  Hari Ibu bukan termasuk Hari Libur Nasional, belum ada masa pemerintahan di Indonesia yang meliburkan hari ini. Bukan berarti menghormati sosok Ibu hanya pada tanggal ini, karena dalam akhlaq Islam, dalam keadaan apapun, menghormati orangtua, terlebih Ibu, harus dilakukan tiap saat, walau ibunya berbeda agama sekalipun.
Hari Ibu diperingati layaknya Hari Pahlawan. Terlalu berat untuk membayar jasa mereka, sebagaimana kita tak mungkin membayar jasa seorang ibu yang telah melahirkan dan menyusui kita. Setidaknya, di Hari Ibu, adalah salah satu moment yang tepat untuk merenung, bagaimana sikap kita terhadap ibu. Apakah kita selama ini bersikap layaknya anak yang baik dan patuh kepadanya?


Sikap Terhadap Ibu

Peringatan Hari Ibu yang terpenting bukan lah hari nya. Tetapi sikap apa yang kita perbuat kepada kedua orangtua, khususnya ibu. Secara umum, sikap seorang anak kepada orangtua adalah merendahkan diri :
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [Al-Isra : 24]
Ajaran agama Islam terhadap orangtua dapat dilihat dari sebuah hadits yang berbunyi: Ridha Allah tergantung dari ridha kedua orangtua. Hadits ini memberi tekanan bahwa pertimbangan orangtua sangat penting. Secara logika, mereka adalah orang yang mengasuh anak sedari kecil, mengetahui bakat dan kebiasaan anak-anaknya. Kedua, mereka menyayangi mereka secara ikhlas lillahi ta’ala, dan tak ada seorang pun yang mampu ‘menandingi’ ketulusan mereka. Meski demikian, anak juga mempunyai hak untuk berbeda pendapat dengan mereka, tetapi harus dengan cara yang baik (ma’ruf). 

Penghormatan anak terhadap Ibunya, dalam Islam, lebih utama daripada penghormatan terhadap ayahnya. Dalam sebuah hadits mutawattir disebutkan

Dari Abu Hurairah r.a, Rasululloh saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dalam hadits lainnya bahkan dikatakan ‘ al jannatu fii aqdaami ummahaat, atau surga itu terletak di bawah kaki seorang ibu. Ini adalah bahasa kiasan untuk menunjukkan betapa penting nya peran seorang ibu terhadap anak-anaknya, dan sebuah pelajaran dari rasul bagaimana seorang anak harusnya bersikap kepada ibunya.

Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan perintah yang jelas untuk menghormati kedua orangtua. Sehingga penghormatan terhadap orangtua sampai orangtua sudah menua, wajib hukumnya. Sebagaimana dalam al Qur’an disebutkan;

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Peran Seorang Ibu
Sehebat-hebatnya seorang ayah, ia tak bisa melakukan beberapa tugas yang dilakukan. Diantaranya adalah mengandung dan menyusui. Adalah sunnatullah, hanya wanita (ibu) yang bisa mengandung bayi, karena Allah telah menganugerahkan wanita dengan ‘rahim’.  Rahim ini sebagai tempat pertemuan sel telur dan sel pejantan dalam tubuh seorang wanita. Kemudian berbuah menjadi janin yang menempel di dinding rahim. Dalam al Qur’an disebutkan ;  

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)(23:12-13).

Proses perkembangan anak dalam dinding rahim itu dijelaskan secara detail dalam ayat al Qur’an;.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Mu’minun 12-14)

 Semakin tua kandungan, semakin besar perut sang bunda. Semakin bertambah lemah fisik dan bertambah kepayahannya. Tetapi ia dapat melaluinya secara ikhlas, hingga waktu melahirkannya. Ketika melahirkannya, ia dihadapkan pada suatu ujian, jika tidak ditangani secara tepat, yaitu dengan bantuan medis professional, akan mengalami keguguran atau wafat ketika melahirkan. 

Pada zaman dahulu, banyak ditemukan wanita yang meninggal dunia karena melahirkan seorang anak. Bahkan pada masa kini, ketika ilmu dan peralatan kedokteran mengalami kemajuan, tingkat kematian wanita ketika melahirkan masih relative tinggi. Wanita yang meninggal waktu melahirkan seperti orang syuhada’ yang meninggal dalam berjuang di jalan Allah. Sehingga wanita yang meninggal karena melahirkan, dalam agama Islam, tergolong meninggal dalam keadaan syahidah. 

Perjuangan seorang Ibu tidak hanya berhenti ketika melahirkan anak. Tetapi ia menghadapi kewajiban berikutnya, yaitu menyusui anak. Sebuah tugas yang tak mungkin digantikan oleh ayah. Bahkan ketika anak tumbuh sampai dua tahun, seorang ibu tetap dianjurkan untuk menyusui anaknya. ASI lebih baik daripada air susu yang berasal dari binatang ternak (sapi).  Pada masa-masa kecil,seorang anak rewel, seorang ibu harus terjaga baik di siang maupun malam hari. Ia harus ada ketika anak membutuhkannya. 

Tidak semua wanita yang mengandung atau melahirkan adalah seorang ibu. Karena banyak dari wanita tidak kuat atau tidak lulus seleksi menjadi seorang ibu. Banyak dari wanita, menggugurkan kandungannya. Atau ketika bayinya sudah lahir, ia membuang bayi atau menitipkannya kepada orang lain. Bahkan banyak kasus ditemukan, mereka malah membunuh bayi atau janin yang dikandungnya, karena sebab-sebab tertentu.  

Ujian bagi seorang ibu, tidak hanya pada awal kehidupan anak, melainkan pada masa-masa sesudahnya. Idealnya, seorang ibu lah yang mendidik anaknya dibandingkan dengan ayahnya atau orang lain (pembantu). Karena kedekatan emosional sejak dari dalam kandungan, lebih mudah diberikan daripada orang lain. 

Tidak semua ibu mempunyai masa lineal yang sama. Mereka selalu hidup berpasangan dengan suaminya, merawat anak secara bersama-sama. Tetapi banyak ditemukan kasus seorang ibu yang berjuang sendirian. Mereka membesarkan anak, mencarikan nafkah bagi mereka, hingga masa dewasa, seorang ibu mempunyai insting yang lebih tajam untuk mengasuh anak mereka daripada insting yang dimiliki oleh seorang ayah. Meskipun mereka lemah, tetapi jika dihadapkan pada keterpaksaan menghadapi tuntutan masa depan sang anak, banyak dari mereka melakukan apapun agar kehidupan dia dan anak-anaknya tetap berlangsung.


-


Masjid tertua se-DIY ada di Kotagede, Bangunan ini dekat dengan kompleks pemakaman raja Mataram. Sebuah kompleks makam, yang didalamnya terdapat Pasareyan Panembahan Senopati, kakeknya Raja Agung, pendiri Mataram Islam. 

Kedua tempat  ini (yaitu makam Panembahan Senopati & Masjid Agung) adalah sama-sama bangunan bersejarah, dan berada dalam satu kompleks. Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601, dan masjid Agung didirikan oleh Sultan Agung 40 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1640. Sehingga  kompleks ini adalah bagian tak terpisahkan yang dibangun sejak 5 abad lampau.



(Gbr. Map Kompleks Masjid Agung & Makam Panembahan Senopati)

Memasuki kompleks ini seakan kembali ke jaman kerajaan dulu. Tempat ini adalah pusat kerajaan mataram, sebelum mataram terpecah belah menjadi kraton Kasunanan di Solo dan Kraton Kasultanan di Yogyakarta. Jadi tempat ini jadi milik bersama kedua pusat kerajaan tersebut.

Pada jaman dulu, Kotagede, meski secara geografis adalah bagian dari Yogyakarta, tetapi secara administrative, menjadi Kotagede Yogya dan Kotagede Solo. Makanya di salah satu halaman masjid mataram, terdapat prasasti dari Pakuboewono X, raja Solo.

Dua kerajaan ini adalah kerajaan Islam, karena dipimpin oleh raja-raja yang beragama Islam, dengan penasehat para ulama, yang disebut dengan penghulu. Di tempat ini lah dulu, Sultan Agung membantu penyebaran agama Islam, dengan menempatkan banyak ulama di beberapa daerah, menyesuaikan kalender Saka dengan kalender Islam, dan mengangkat ulama sebagai pejabat kerajaan yang disebut dengan penghulu.

Kemana Kraton Mataramnya? Meski terdapat banyak sisa-sisa kraton mataram, seperti makam, masjid, sisa tembok beteng,, tetapi istana raja tepatnya tidak diketahui secara pasti.

Jika memasuki masjid,  lewat pintu gerbang sebelah timur, maka terdapat pohon beringin sangat besar. Pohon ini dipercaya sudah ada sejak masa kraton Mataram Kotagede masih berdiri.  Pohon ini jadi saksi bisu ketika Panembahan Senopati mendirikan pusat kerajaan.


(gambar pohon beringin)

Dari Pohon kea rah barat sekitar 50 meter, terdapat jalan setapak, menuju sebuah gapura paduraksa, gapura khas “Hindhu”. Bangunan ini sangat khas dengan kultur asli Nusantara (Jawa), dengan berbagai pengaruhnya. Memasuki gapura, akan bertemu dengan tembok pahatan. Setelah lewat tembok ini, barulah bertemu dengan halaman masjid Mataram Kotagede. 

Biasanya orang datang ke kompleks ini terbagi jadi 2 niat. Niat untuk beribadah sholat, maka ia akan menuju ke masjid. Sedangkan jika ingin berziarah, maka belok kea rah kiri, memasuki gerbang yang juga berbentuk sama (paduraksa). Biasanya penduduk sekitar kompleks, pergi ke masjid, sedangkan orang dari luar, berniat berziarah. Oleh karena itu, pada malam-malam tertentu kompleks ini ramai pengunjung. 



(gambar gapura paduraksa)

Tetapi tidak semua bagian kompleks ini murni sama seperti jaman pertama kali dibangun. Bagian dari batu bata merah yg terlihat masih muda, jelas tidak dibangun ketika jaman Sultan Agung. 

Tetapi banyak bagian yang bangunan aslinya tetap bertahan. Seperti bagian inti masjid, tembok bagian utara masjid, gerbang paduraksa, serta bangunan tembok di seputar kompleks pasareyan.


Bagian masjid sendiri yg asli Cuma bagian tengah dan bedug yang diletakkan di salah satu sudut masjid. Sedangkan bagian teras, kolam sekitar masjid, dan perluasan di beberapa bagian dalam masjid, dilakukan atas perintah Pakoebowono X, raja Solo, yang berkuasa sampe tahun 1939. 
-