Slider
Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Slider
Racing
Ketika kita
sholat, ada salah satu rukun sholat yang tak boleh kita lewatkan, yaitu bersholawat
kepada Nabi Muhammad. Namanya banyak dikenal tidak hanya dalam agama Islam,
melainkan juga oleh Yahudi dan Nasrani. Nabi Ibrahim dalam Islam adalah salah
satu Nabi Ulil Azmi, seorang Nabi yang punya maqom di sisi Allah, dan mendapat
gelar sebagai Khalilullah.
Dari Nabi
Ibrahim ini kota Mekkah pada mulanya berdiri, yaitu dari Istri dan anak-anaknya
yang mencari sumber air. Sumber Air ini dalam kehidupan gurun, sering jadi
cikal bakal berdirinya pemukiman penduduk atau kota. Setelah putranya dewasa,
Nabi Ibrahim diminta untuk menyembelih putranya, Ismail, dan mendirikan Ka’bah.
"Katakan: Sesungguhnya Aku telah
ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama
Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang
musyrik". (Al
An'am [6]: 161)]
Ibadah yang
dianjurkan dalam Islam, adalah ‘tapak tilas’ Nabi Ibrahim. Seperti Haji ke Kota
Mekkah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah), dan menyembelih hewan ternak di Hari
Raya Idul Adha. Sehingga, perintah Haji sudah dianjurkan oleh Allah sebelum
datangnya Islam. Mekkah sebagai tempat suci Ummat Islam, adalah peninggalan
Nabi Ibrahim yang sampai kini jutaan orang tiap tahun mengunjunginya baik lewat
umrah maupun Haji. Hal ini dapat dilhat dari firman Allah’
““Dan
(ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi
manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam (tempat berpijak)
Ibrahim sebagai tempat shalat (tempat untuk memohon). Dan telah Kami
perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk
orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".”” . QS Al Imran
97
Nabi Ibrahim
menurut perkiraan sejarawan, hidup sekitar abad 20 SM, dan diberi usia sangat
panjang. Menurut sejarawan Muslim, Omar Hashim, kata Ibrahim berasal dari dua
kata, yaitu i-b (إب) berasal dari kata ‘ab’ atau abu yang
berarti ayah. Dan ‘rahim’ yang berarti pemurah’, jika kedua kata digabungkan
menjadi kalimat ‘seorang ayah yang pemurah’. Dalam perkembangannya, Nabi
Ibrahim mempunyai keturunan, yang pertama dari Nabi Ismail, yang beranak-pinak
melahirkan orang-orang Quraisy, termasuk Nabi Muhammad Saw. Sedang dari pihak
Ishaq, beranakkan Ya’qub, yang kemudian melahirkan generasi bani israil. Dari
mereka muncul Nabi-nabi yang diutus kepada golongannya (Bani Israil) dan
berasal dari cucu-cucu Nabi Ya’qub diantaranya adalah Daud, Sulaiman, Ayyub,
Yusuf, Musa, dan Harun.
Allah
berfirman;
Dan itulah hujjah kami yang Kami berikan
kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami
kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui. 84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya.
Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum
itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya
(Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al An'am [6]: 83-84)
Karena itu, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai Bapak Para Nabi, karena
banyaknya orang yang diangkat sebagai nabi, dan memiliki darah Ibrahim, baik
dari silsilah Nabi Ismail maupun Nabi Ishaq. Dari mereka Nabi Ibrahim
mendapatkan keturunan yang saleh, karena doa Nabi Ibrahim setelah membangun
Ka’bah.
“Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya
Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang
yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami
umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan
tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah
untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada
mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan
al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ (QS. al-Baqarah: 127-129)
Kisah Nabi
Ibrahim dalam memusnahkan berhala disebutkan dalam al Qur’an, al Anbiya’ 51- 72. Dalam ayat-ayat
tersebut, Allah mengisahkan tentang perjalanan Nabi Ibrahim berhadapan dengan
para penyembah berhala. Disebutkan, bahwa sebelum kedatangan Musa dan Harun,
untuk menyebarkan agama Allah (Tauhid) kepada Bani Israil, telah datang orang
yang lebih dulu, yaitu Ibrahim.
Seorang anak
yang menentang ayah dan kaumnya, orang-orang yang rajin memuliakan
patung-patung tersebut. Mereka mengatakan bahwa pengetahuan akan kemuliaan
patung tersebut datang dari nenek moyang mereka. Ibrahim menyeru kepada mereka,
bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah kesesatan yang nyata.
Seruan Nabi
Ibrahim tersebut membuat kaget kaumnya, yang mengira Nabi Ibrahim hanya
bercanda. Karena demikian kuat totem mereka, sehingga mengira seorang pun tak
berani melangkahi kesakralannya. Lalu Nabi Ibrahim menjawab dengan logika bahwa
patung tak memberikan kuasa apapun, karena Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat
yang menciptakan langit dan bumi, dan bukan tuhan yang lemah.
Tak hanya
menyeru, tetapi ia berbuat lebih ‘ekstrim’ lagi dengan menghancurkan berhala
hingga berpotong-potong kecuali induknya. Kemudian marah lah kaumnya tersebut,
hingga mencari siapa yang sekiranya berani berbuat kurang ajar terhadap
sesembahan yang benar-benar mereka sakralkan. Lalu seorang mengatakan
perkiraannya, bahwa kemungkinan yang berbuat demikian adalah seorang yang
bernama Ibrahim, yang memang benar-benar orang yang anti berhala.
Kemudian
terjadi tanya-jawab antara Ibrahim dengan kaumnya yang penyembah berhala,
disini lah terjadi kepintaran komunikasi Nabi Ibrahim. Ketika Nabi Ibrahim
menghadapi tuduhan bahwa ia telah menghancurkan patung, lalu ia Nabi Ibrahim
balik menuduh bahwa patung yang paling besar lah yang melakukan terhadap
patung-patung yang lebih kecil. Kemudian mereka mengatakan bahwa sesungguhnya
kamu (Ibrahim) maklum, patung ini sama sekali tak dapat berbicara.
Hal ini lah
yang menjadi titik balik kemenangan komunikasi Nabi Ibrahim. Ibrahim lalu
bertanya balik, ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak
dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak pula memberi mudharat kepada kamu?”
lalu, kaumnya marah, dan hendak membakar Nabi Ibrahim. Maka dibakarlah Nabi
Ibrahim di hadapan orang banyak. Seraya mengatakan bahwa jika ia benar, maka
Tuhan yang disembah Ibrahim meski menyelamatkannya. Di sinilah datang
pertolongan Allah yaitu mendinginkan api yang membakar Nabi Ibrahim.
Dalam ayat
selanjutnya dijelaskan
Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah
negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia
Dan Kami telah memberikan kepada-nya
(Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan
masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh
Nabiyullah,
Nabi besar sepanjang masa, namanya harum, dipanjatkan oleh jutaan kaum muslimin
yang bersholawat kepadanya. Memiliki perjalanan panjang pertentangannya dengan
para kaumnya. Para keluarganya diuji pula dengan kesabaran. Istrinya, Hajar,
ditinggal sendiri di Mekkah, yang waktu itu tidak ada sumber airnya, hingga
menemukan setitik sumber air yang dinamakan ‘zam zam’. Semua kemuliaan yang
dimiliki oleh Nabi Ibrahim, datang dari buah ikhtiyar, doa, pemikiran, yang
berproses selama puluhan tahun dalam hidupnya, yang menurut perkiraan para
mufasirin ia hidup selama 175 tahun.
Aqidah - Feature - Slide Atas - Slider
Inna kholaqnaakum min dzakarin wa untsa
wa ja’alnaakum syu’uban wa qobaaila lita’arafuu .. Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
kelompok laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa
–bangsa untuk saling mengenal. Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat di atas)
adalah ketika Bilal Bin Rabah hendak mengumandangkan adzan di atas Ka’bah
sesaat setelah peristiwa Fathul Makkah. Beberapa orang Mekkah, mencemooh Bilal
Bin Rabah berkaitan dengan warna kulit (hitam). Ayat di atas menegasi bahwa
perbedaan warna atau jenis kelamin adalah kehendak Allah, yang punya derajat
yang sama.
Khusus mengenai
hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam, Allah menjelaskan ;
Dua
ayat di atas menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasang.
Dengan pasangan beda kelamin itu lah, tercipta kasih sayang dan ketentraman,
sehingga darinya mampu terbentuk generasi selanjutnya, maupun ikatan social
yang lebih baik lagi. Kenapa perlu adanya mawaddah, karena pernikahan tidak
akan bahagia jika hanya didasarkan pada ketertarikan fisik atau pemenuhan
biologis, tanpa didasarkan pada perasaan cinta kasih.
pernikahan
langgeng jika dalam berkeluarga ada mawaddah. Pernikahan biasanya hancur, jika
factor afesial (rasa kasih sayang) terabaikan. Dengan mawaddah, tidak hanya terjadi ikatan
hanya pada dua diri orang tersebut (yaitu suami-istri bersangkutan), melainkan
tercipta ikatan kekeluargaan yang lebih besar.
Karena selain keturunan, mereka juga
memperoleh ikatan kekeluargaan dengan kerabat pasangannya. Dalam hal ini Allah
berfirman; Dan Dia pula yang menciptakan
manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu punya keturunan dan munashoroh
(al Furqon : 54). Mushaharah yaitu hubungan kekeluargaan yang disebabkan oleh
ikatan perkawinan, seperti menantu, mertua, ipar, dan sebagainya.
Perkataan
“min anfusikum” dalam Ar Rum 21 di atas diartikan dengan “dari dirimu sendiri”,
maksudnya adalah berasal dari golonganmu sendiri, atau dalam hal ini sesame
manusia. Sehingga, tidak dikatakan normal, jika seseorang menikahi jin atau
binatang. Karena perilaku seperti ini sering ditemukan. Misalnya, orientasi
tidak dengan sesame manusia, melainkan dengan binatang. Ketentuan menikah
dengan lawan jenis dari golongan manusia berdasarkan ketetapan yang diberikan
oleh Allah, jika tidak maka akan dikatakan tindakan yang menyimpang.
Perilaku
reproduksi harus ditujukan dalam pembentukan keluarga yang sehat dan normal,
dan punya keturunan sehingga dapat melanjutkan risalah yang diberikan Allah
kepada manusia, dan mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan menjadi orang
sholeh, sebagaimana doa Nabi Ibrahim; Robbi
hab lii minas shoolihiin (Tuhanku, berikan kepada ku anak yang sholeh).
Allah
telah menciptakan ketetapan sesuai dengan ukuran, sehingga syariat islam jika
dijalankan akan selaras dengan ukuran alam, jika ukuran ini terabaikan akan
terjadi disfungsi biologis maupun social.
Muamalah - Slide Atas
Ramadhan
adalah bulan penuh berkah, yang didalamnya Allah menurunkan ayat-ayat al Qur’an
lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Dalam bulan ini pula,
Rasulullah pertama kalinya menerima wahyu pertamanya;
“ bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al
Baqarah [2] : 185)
Bulan
ini adalah bulan khusus, karena dalam bulan ini, nafsu manusia hendaknya
dibelenggu. Nafsu-nafsu basyariyah yang sebelumnya diumbar, pada bulan ini
nafsu-nafsu tersebut hendaknya diperketat, hingga tak memberi kesempatan bagi
setan untuk membisikkan godaan-godaan untuk bermaksiyat kepadaNya. Sebaliknya,
pada bulan ini memotivasi seluruh ummat islam untuk berlomba-lomba dalam
melakukan kebajikan.
Dalam
hal ini Rasulullah Saw, bersabda; “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka,
pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)
Amalan-amalan
yang dilakukan pada bulan ini, meliputi amalan wajib maupun sunnah. Diantaranya
adalah;
PERTAMA;
AMALAN PUASA.
Amalan
ini adalah amalan fardhu ‘ain yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap muslim yang
mukallaf atau orang yang sudah terbebani hokum agama, atau akil baligh, sehat
jasmani dan rohani. Puasa dilakukan selama bulan penuh. Oleh karena itu, bulan
romadhon sering disebut dengan bulan puasa, atau syahrush shiyam.
Puasa
tidak hanya dilakukan dengan cara menahan makan dan minum belaka, melainkan
juga harus disertai dengan sepenuh jiwa dan niat ikhlas lillahi ta’ala,
sebagaimana sabda Nabi’
Barangsiapa berpuasa pada bulan
Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa
sebelumnya diampuni.
(HR Bukhari Muslim dan Abu Dawud)
Ketika
menjalankan ibadah puasa, seorang muslim hendaknya menahan semua hal yang
dirasa dapat merusak pahala puasanya, seperti bergunjing, mengumpat (berbicara
kotor), tidak dapat menahan nafsu amarahnya, dan seterusnya.
Bagi
sebagian orang, menahan lapar sembari menahan nafsunya adalah hal yang sangat
sulit dilakukan. Karena lapar cenderung membuat orang sulit menahan nafsunya.
Tetapi hikmah yang diambil darinya adalah bahwa hal ini dapat menjadi tarbiyah
atau pembelajaran yang sangat efektif untuk melatih kesabaran seseorang.
meski
berpuasa hukumnya wajib, puasa ini terdapat rukhsah atau dapat meninggalkan
puasa, tetapi dengan alasan yang benar-benar diijinkan oleh agama. Misalnya
dalam keadaan sakit keras atau bepergian di tempat yang jauh, serta
kondisi-kondisi lainnya yang tidak memungkinkannya untuk melakukan puasa.
Dengan ketentuan, ia dapat mengganti di lain waktu. Atau jika seorang telah
uzur, ia diwajibkan untuk membayar fidyah.
KEDUA:
SHALAT TARAWIH & I’TIKAF
Jika
pada malam hari, seorang muslim berpuasa dan menahan dari semua godaannya. Pada
malam harinya, terdapat amaliyah yang ‘menunggu’, yaitu shalat tarawih. Tentang
jumlah shalat tarawih ini, berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama lainnya,
ada yang menyatakan 8 raka’at ditambah dengan 3 witr. Ada pula yang menyatakan
20 raka’at ditambah dengan 3 witir, dan yang lainnya menyatakan bahwa jumlah
shalat tarawih tidak lah terbatas.
Inti
dari amaliyah tarawih adalah memperbanyak shalat sunnah di malam hari
sebanyak-banyaknya demi meraih keridhaan Allah.
Barangsiapa
yang melakukan qiyam ramadhan, didasari iman dan mengharapkan pahala maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lewat. (HR. Bukhari 37 & Muslim 759).
Yang
dimaksudkan dengan ‘qiyam ramadhan’ dalam hadits di atas adalah sholat sunnah
yang dilakukan malam hari di bulan Ramadhan, atau dalam hal ini adalah shalat
tarawih. Shalat Tarawih adalah sholat sunnah yang berbeda dengan sholat sunnah.
Jika sholat sunnah pada umumnya lebih baik dikerjakan secara sendiri-sendiri,
tetapi, shalat tarawih lebih baik dikerjakan secra berjama’ah.
Amalan
di malam hari di bulan ramadhan, selain Tarawih adalah I’tikaf. Amalan I’tikaf
adalah amalan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad di 10 akhir bulan Ramadhan,
sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw;
“Dari
Ibnu Umar RA (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW selalu beri‘tikaf
pada sepuluh hari yang penghabisan di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘Alaih).
Tujuan
dari I’tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan bertaqorrub kepadaNya,
terutama ketika datangnya lailatul qadr di salah satu malamnya.
Ketentuan
I’tikaf harus dilakukan di dalam masjid. Di Indonesia, selain masjid juga
terdapat mushola, status hokum fiqh antara masjid dan mushola berbeda, sehingga
I’tikaf kurang afdhol jika dilakukan di mushola., tetapi dilakukan di dalam
masjid.
KETIGA:
TADARUS & BERDZIKIR
Tadarus
adalah amalan utama dikerjakan di bulan Ramadhan. Amalan ini meniru apa yang
dilakukan oleh Nabi bersama malaikat Jibril, ketika di bulan puasa, yaitu
mereka membaca dan mempelajari kitab al Qur’an.
“Dari Ibnu Abbas r.a. (diriwayatkan bahwa) ia
berkata: Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan
Ramadhan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan
Ramadhan, dan mengajaknya membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Ketika ditemui
Jibril, Rasulullah adalah lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan.”
(Muttafaq ‘Alaih).
Pada
hadits di atas, kegiatan berinteraksi dengan al Qur’an tidak hanya membaca
melainkan juga mempelajari. Dalam tradisi ummat islam, kegiatan al Qur’an
dilakukan dengan cara melakukan seaman al Qur’an. Satu kelompok pembaca al
Qur’an bergiliran membaca al Qur’an, sedangkan yang lain menyimak bacaan.
Mempelajari
al Qur’an dapat pula bermakna lebih luas, yaitu mempelajari pelajaran-pelajaran
di dalam al Qur’an yang didalamnya memuat petunjuk bagi ummat manusia.
Selain
membaca dan mempelajari al Qur’an, amalan lainnya yang dianjurkan dilakukan di
bulan puasa adaalah berdzikir, berisitighfar dan berdoa, baik itu dilakukan di
siang hari maupun di malam hari. Dalam tradisi ummat islam, kegiatan dzikir
dilakukan di sela-sela melakukan pekerjaan, atau ketika dalam keadaan luang.
KEEMPAT:
SHADAQAH
Shodaqoh
adalah anjuran yang dilakukan tiap hari kepada kaum muslimin. Tetapi shodaqoh
lebih ditekankan lagi pada bulan puasa. Oleh karena itu dalam tradisi ummat
islam saat ini adalah mereka suka melakukan hisab maal (perhitungan harta
kekayaan), sehingga dapat diketahui nishab dan besaran jumlah zakat yang hendak
dikeluarkannya dalam satu tahun.
Pada
bulan ini, sebagian dari masyarakat melakukan sedekah dengan cara memberi
ifthar (atau makanan bulan puasa) dengan menyediakan takjil di acara buka
bersama di masjid-masjid. Sehingga seorang dapat terjamin kebutuhan pokoknya
selama bulan ramadhan.
Penekanan
shodaqoh pada bulan puasa didasarkan hadits-hadits nabi, yang menyatakan bahwa
nabi pada bulan ini adalah orang yang lebih dermawan daripada bulan-bulan
lainya. Terkait dengan menyediakan makanan untuk berbuka puasa, dapat dilihat pada
ucapan Nabi sebagaimana berikut ini;
“Barangsiapa
yang memberi ifthar kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala
senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Aqidah - Ibadah - Slide Atas
In the name of God (Allah), the Most Gracious, the Most Merciful.
This article begins in the same way Muslims begin with
many undertakings. Before commencing even the most mundane tasks of life,
eating, drinking, dressing, or bathing, a Muslim will turn his efforts into
worship by mentioning the name of God. He (God) is the Most Gracious and the
Most Merciful, His mercy encompasses all things, and is the source of all the
compassion and mercy that exist. God says to us in the Quran, “My Mercy
embraces all things...” (Quran 7:156)
------------------
Dengan nama Allah, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Artikel
ini dimulai Dengan cara yang sama muslim memulai banyaknya aktivitas
(yang dilakukannya). Sebelum memulai (sesuatu), bahkan dari pekerjaan
paling biasa dalam kehidupan seseorang, (seperti) makan, minum,
berpakaian, atau mandi, seorang muslim akan mengubah usahanya menjadi
peribadatan, Dia (Tuhan) adalah Maha pemurah lagi Maha Penyayang,
kasihnya meliputi segala sesuatu, dan sumber dari segala semua kasih dan
kemurahan yang ada. Tuhan berfirman kepada kita dalam al Qur'an
"Kasihku mencakup segala sesuatu " (al Qur'an Al A'raf : 156)
--------------------
From
the sayings of Prophet Muhammad, we know that when God decreed the
creation He said, “…and My Mercy overcomes My Wrath.” ( Saheeh Bukhari
and Muslim) What exactly is mercy? The dictionary defines it as
disposition to be kind and forgiving, and the feeling that motivates
compassion.[1] The Arabic term for mercy is rahmah and two of the most
important names of God derive from this root word. Ar Rahman ( the Most
Gracious) and Ar Raheem – (the Most Merciful). The Mercy of God is
that ethereal quality that embodies gentleness, piety, care,
consideration, love and forgiveness. When these qualities are
observable in this world, they are a mere reflection of God’s mercy
towards his creation.
---------------------
Dari Sabda Nabi Muhammad, kita tahu bahwa ketika Allah menetapkan penciptaan Dia berkata, "... dan rasa kasihKU mengatasi kemurkaan-KU." (Shahih Bukhari dan Muslim) .
Apa sebenarnya 'rahmat' itu? (Menurut) kamus mendefinisikan sebagai
'watak untuk bersikap baik dan pemaaf, dan perasaan yang memotivasi
untuk berkasih sayang. Istilah bahasa Arab untuk istilah 'Kasih' adalah
'Rahmah'. Dan dua istilah yang paling penting dari akar kata ini, Ar
Rohman (Maha Pemurah) dan Ar Rahim (Maha Penyayang). Rahmat Allah
adalah sifat halus yang dapat mewujudkan kelembutan, kesalehan,
pemeliharaan, pertimbangan, cinta dan pengampunan. sifat-sifat ini ini
dapat teramati di dunia ini, karena sifat-sifat tersebut tidak lebih
dari refleksi cinta kasih Allah kepada makhluknya.
------------------------------
Prophet Muhammad explained the quality of mercy to his companions, telling them God has one hundred parts of mercy, and has sent down one part to be shared amongst the creation. This is why people are compassionate and kind towards one another and wild animals treat their offspring with gentleness. However, God withheld the other 99 parts to be bestowed upon the believers on the Day of Judgement. (Saheeh Muslim)
---------------
Nabi Muhammad menjelaskan
tentang kualitas kasih sayang Allah kepada para sahabatnya, mengatakan
kepada mereka bahwa Allah memiliki seratus bagian dari rahmatNya, dan
telah menurunkan satu bagiannya untuk dibagikan ke seluruh ciptaannya.
Inilah sebabnya kenapa banyak orang berkasihsayang dan berbuat baik
kepada orang lain. Dan Hewan liar pun dapat dapat memperlakukan anak
mereka dengan kelembutan. Namun, Allah menahan 99 bagian rahmat lainnya,
yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman pada hari kiamat
(Shahih Muslim).
----------------
All of creation shows love and compassion towards one
another with just this one portion of mercy. Humans give willingly to the poor
and needy, families support and love one another, and animals protect their
young. Mercy and compassion generally take into account the need to alleviate
suffering and to spread kindness and joy. Even though this world sometimes appears
to be a dark and gloomy place, the Mercy of God can be seen and felt by those
who ponder and reflect. The rain falls, the sun shines, a child reaches for
her father’s hand and the kitten snuggles into the protective warmth of its
mother. God’s mercy is strong and visible all around us, yet on the Day of
Judgement He will complete this mercy by adding the final 99 parts and
bestowing mercy, love and compassion upon those believers who did righteous
deeds and tried to please God in all their affairs. This concept is awe inspiring;
the mercy of God knows no bounds.
----------------------------
Semua
ciptaan menunjukkan cinta dan kasih sayang terhadap satu sama lainnya,
hanya dengan salah satu bagian dari Rahmat Allah. Manusia memberi dengan
rasa ikhlas kepada orang miskin dan membutuhkan, dukungan keluarga dan
saling mencintai. Dan Hewan melindungi anak mereka. Kasih dan ayang pada
umumnya memperhitungkan kebutuhan untuk meringankan penderitaan dan
menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan. Meskipun kadang-kadang dunia ini
tampaknya menjadi tempat yang gelap dan suram, tetapi Rahmat Allah dapat
dilihat dan dirasakan bagi orang yang merenung dan merefleksikan. Hujan
yang turun, matahari yang bersinar, seorang anak yang meraih tangan
ayahnya, serta anak kucing yang merapat ke hangatnya perlindungan
induknya. Rahmat Allah terasa kuat dan dapat terlihat di sekitar kita,
namun di Hari Kiamat, Allah akan menyempurnakan RahmatNya dengan
menambah 99 bagian terakhir dan menganugerahkan rahmat, cinta, dan kasih
sayang kepada orang-orang yang beriman yang melakukan amal saleh, orang
yang berusaha mencari ridha Allah dalam segala urusan. Konsep ini
adalah inspirasi kekaguman; Kemurahan Allah tidak mengenal batas.
Aqidah - Navigasi - Slide Atas
Larangan Allah Terhadap Perasaan Cinta Buta
banyak hal
yang menuntun seseorang untuk menjauhi agamanya. Banyak diantara perbuatan
tersebut yang tidak kentara, halus, dan persuasive. Setan selalu bermain dalam
relung sanubari manusia. Mereka tidak secara frontal memposisikan diri sebagai ‘agen
kejahatan’, melainkan memposisikan diri sebagai ‘hati nurani’. Bahasa yang
sering dipakai adalah ‘atas nama cinta’.
Allah telah
menurunkan al Qur’an, disertai dengan As Sunnah sebagai penjelas, sebagai
petunjuk bagi kaum muslimin. Keberadaan petunjuk ini, seyogyanya dijadikan
bahan rujukan (pedoman), untuk mengarungi kehidupan termasuk dalam pergaulan
hidup, bukan berdasarkan ‘hawa nafsu’ kita.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan
musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka
telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu...” (QS. Al Mumtahanah,
60: 1)
Kesalahpahaman dalam mengartikan cinta,
membuat banyak orang ‘tersihir’. Seorang pria yang putus cinta, akan mengakhiri
hidup mereka (dengan bunuh diri), bahkan sebagiannya lagi kehilangan kendali,
hingga menyebabkan gangguan psikis. Mereka
yang jelas-jelas melanggar hukum agama, membanggakan diri bahwa ‘mereka telah
menemukan cinta sejati mereka’.
Perasaan cinta ini seakan dilegitimasi dengan
anggapan bahwa cinta adalah mulia, suci, dan sebuah ungkapan jiwa murni. Hal ini
ditunjang dengan banyaknya karya sastra yang menulis tentang perjalanan cinta
yang maha dahsyat, seperti kisah ‘Romeo & Juliet’.
Dalam
mengkaji agama Islam, maka cinta sejati harusnya ditujukan kepada Allah. Mahabbah kepada Allah adalah puncak (maqom) tertinggi. Cinta kepada sesame (termasuk
kepada lawan jenis) adalah bagian dari anugerah Allah yang diberikan kepada
manusia. Tetapi yang penting, kepada siapa cinta itu mestinya ditujukan. Di sini
lah pentingnya diketahui, mana perbedaan antara ‘cinta dan ‘sentimen’.
Bahasa perasaan
tidak boleh dijadikan standart untuk menuntun perilaku seseorang. Perasaan sendiri
dapat dikendalikan, seperti dalam sejarah ummat manusia, dimana kaum komunis
mereka terus menerus di-‘sentil’ dengan lagu-lagu perjuangan, untuk
membangkitkan sisi-sisi emosional mereka.
Di kelompok lain, kumpulan supporter bola disulut emosinya, dengan kebersamaan dalam kumpulan massa disertai dengan yel-yel dukungan kepada tim kecintaan mereka. Emosi harus dituntun dengan akal sehat, dan akal hendaklah berpedoman pada tuntunan agama.
Di sisi lainnya, tidak semua manusia berdaya menghadapi berbagai stimulasi perasaan-perasaan tersebut, hingga menyebabkan perasaan tertekan, dan melanggar batasan yang telah ditentukan oleh agama.
Larangan Islam Merayakan Hari Valentine
Firman Allah: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya". (QS. Al Isra': 36).
Di kelompok lain, kumpulan supporter bola disulut emosinya, dengan kebersamaan dalam kumpulan massa disertai dengan yel-yel dukungan kepada tim kecintaan mereka. Emosi harus dituntun dengan akal sehat, dan akal hendaklah berpedoman pada tuntunan agama.
Di sisi lainnya, tidak semua manusia berdaya menghadapi berbagai stimulasi perasaan-perasaan tersebut, hingga menyebabkan perasaan tertekan, dan melanggar batasan yang telah ditentukan oleh agama.
Larangan Islam Merayakan Hari Valentine
Firman Allah: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya". (QS. Al Isra': 36).
Milyaran manusia
yang hidup di muka bumi ini selalu berhadapan dengan emosi, karena memang
demikian lah keadaan biologis manusia yang memungkinkannya. Kemarahan,
kebencian, Empati, cemburu, cinta, kesedihan, bersatu padu, untuk menentukan
reaksi tindakan manusia (behavioral).
Di sini lah
Allah memberikan tuntunan manusia, untuk tidak menjadikan hawa nafsunya,
sebagai petunjuk di luar petunjuk yang telah diberikan oleh Allah;
“Maka pernahkah kamu
melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah
membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (mem-biarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah, 45: 23)
Dalam perasaan ‘romantik’ ini, dua sejoli
menunjukkan perasaan satu sama lain. Jika tiap mukmin tiap siang dan malam
untuk berdzikir mengingat Allah, tetapi hinggapan perasaan cinta ini, kepalanya
diisi dengan bayang-bayang kekasih hatinya. Tak luput mulutnya, memuji-muji
sang kekasih, hingga meluapkan segala potensi yang dimiliki bagi si pujaan hati
mencapai klimaksnya, menjadikan kekasihnya sebagai ‘ilah’.
Islam mengajarkan tentang bagaimana pergaulan
antara wanita dan pria yang semestinya. Kepada siapa saja cinta ditujukan, dan bagaimana
cara penyalurannya. Di sini lah perbedaan pandangan hidup antara barat yang
menekankan kebebasan ekspressi dengan pandangan hidup islam yang menekankan
ketundukan kepada Allah.
Hari
Valentine, secara oral, sudah ditetapkan sebagai ‘Hari Kasih Sayang’. Pada tanggal-tanggal
menjelang hari H (tanggal 14 Februari), mall-mall dan pusat pertokoan di
kota-kota besar, akan dijumpai pernak-pernik dengan warna dominan pink. Beberapa
pasangan muda-mudi berboncengan pada malam harinya. Banyak yang menjadikan hari ini sebagai hari
yang mereka peruntukkan bagi kekasihnya.
Hari
Valentine disuguhkan dengan mitos ‘perjuangan cinta’ di masa lampau, yaitu tentang
Santo Valentinus. Dikisahkan pada zaman Kekaisaran Romawi, raja mempunyai ide
untuk tidak menikahkan prajurit, karena pernikahan akan mempengaruhi kualitas
tempur prajurit mereka. Tetapi muncul pendeta Valentinus, yang menikahkan
beberapa pasangan, sehingga melanggar aturan raja (Claudius II), lalu ia
dihukum penggal kepala. Kisah ini paling banyak diungkit, meski tidak banyak
diketahui secara detail siapakah Valentinus, dan seberapa benarkah cerita
demikian.
Versi demikian
adalah salah satu versi. Banyak yang meyakini, versi ini sengaja ‘dikasih warna
Kristen. Versi lainnya menyatakan bahwa Hari Valentine sudah diperingati
jauh-jauh hari sebelumnya di Romawi. Penduduk Romawi memperingati tanggal 15
Februari sebagai Hari Lupercalia, dewa kesuburan. 2 hari sebelum mencapai
puncaknya (15 Februari) terlebih dahulu mereka mempersembahkan ritual bagi Dewi
Juno Februata, Dewi Cinta. 2 hari ini
(tanggal 13 dan 14 Februari), mereka harus berkumpul untuk mengundi siapa gadis
dalam kotak, dan mengambil undian secara acak. Setelah mengambil undian, mereka
mengambil gadis yang disebutkan namanya berdasarkan undian, lalu bersenang-senang
dengan pemuda yang telah mengundinya.
Banyak kepentingan, kenapa hari tersebut sengaja ‘dipatenkan’
pada zaman modern ini. Satu sisi, banyak orang yang menyukai kemeriahan. Di sisi
lainnya, banyak pengusaha yang mengambil keuntungan bisnis dari pengusaha
produsen (pencipta pernak-pernik), jasa (penyelenggaraan event-event valentine’s
day), distributor (toko-toko/mall penyedia pernak-pernik), sampai media massa
(sebagai bahan berita menarik). Sedangkan seorang tokoh agama Kristen (Santo
Valentinus), entah sebagai nama fiktif atau bukan, dihormati sebagai ‘pejuang
cinta’.
Banyak orang yang berusaha mencari letak kehalalan Hari
Valentine ini dengan mengqiyaskan (membandingkan) teknologi, yang keduanya
sama-sama berasal dari Barat. Keduanya jelas berbeda. Teknologi adalah alat
(cara) untuk memudahkan sesuatu, sedangkan Valentine adalah kultur yang memuat
pandangan hidup yang bertentangan dengan Islam.
Penolakan Islam terhadap Valentine adalah
sistem nilai yang termuat di dalamnya, selain juga latar belakang sejarah Hari
Valentine itu sendiri. Dalam Islam, tidak diperbolehkan untuk membangun sistem pergaulan
bebas antara pria dan wanita. Islam mengatur bagaimana pria berinteraksi dengan
perempuan, terutama dengan non muhrim. Sehingga Khalwat (berduaan) dengan
perempuan, sebagaimana sering ditemukan oleh muda-mudi yang merayakan Hari
Valentine ini, dilarang oleh agama.
Firman Allah: : "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah
perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan". (QS. Al Isra': 32).
Banyak ungkapan ‘cinta’ ditujukan secara
tulus kepada pasangannya, tetapi banyak cerita seorang perempuan yang hamil
ditinggal pergi oleh sang pacar, yang sebelumnya ia yakini benar-benar
menunjukkan cinta sejati kepada dirinya.
Islam adalah agama yang berisi muatan
kandungan ajaran yang bertujuan menempatkan manusia pada posisi sebaik-baiknya.
Sebagai makhluk yang dekat kepada Robb-Nya, sekaligus dapat berinteraksi secara
berimbang dengan kehidupan sosialnya.
akhlaq - Slide Atas
Langganan:
Postingan (Atom)






Recent Comments