Select Menu

Slider

Travel

Performance

‹
›

Cute

My Place

Slider

Racing






Ketika kita sholat, ada salah satu rukun sholat yang tak boleh kita lewatkan, yaitu bersholawat kepada Nabi Muhammad. Namanya banyak dikenal tidak hanya dalam agama Islam, melainkan juga oleh Yahudi dan Nasrani. Nabi Ibrahim dalam Islam adalah salah satu Nabi Ulil Azmi, seorang Nabi yang punya maqom di sisi Allah, dan mendapat gelar sebagai Khalilullah.

Dari Nabi Ibrahim ini kota Mekkah pada mulanya berdiri, yaitu dari Istri dan anak-anaknya yang mencari sumber air. Sumber Air ini dalam kehidupan gurun, sering jadi cikal bakal berdirinya pemukiman penduduk atau kota. Setelah putranya dewasa, Nabi Ibrahim diminta untuk menyembelih putranya, Ismail, dan mendirikan Ka’bah.


"Katakan: Sesungguhnya Aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (Al An'am [6]: 161)]

Ibadah yang dianjurkan dalam Islam, adalah ‘tapak tilas’ Nabi Ibrahim. Seperti Haji ke Kota Mekkah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah), dan menyembelih hewan ternak di Hari Raya Idul Adha. Sehingga, perintah Haji sudah dianjurkan oleh Allah sebelum datangnya Islam. Mekkah sebagai tempat suci Ummat Islam, adalah peninggalan Nabi Ibrahim yang sampai kini jutaan orang tiap tahun mengunjunginya baik lewat umrah maupun Haji. Hal ini dapat dilhat dari firman Allah’


““Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam (tempat berpijak) Ibrahim sebagai tempat shalat (tempat untuk memohon). Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".”” . QS Al Imran 97

Nabi Ibrahim menurut perkiraan sejarawan, hidup sekitar abad 20 SM, dan diberi usia sangat panjang. Menurut sejarawan Muslim, Omar Hashim, kata Ibrahim berasal dari dua kata, yaitu i-b (إب) berasal dari kata ‘ab’ atau abu yang berarti ayah. Dan ‘rahim’ yang berarti pemurah’, jika kedua kata digabungkan menjadi kalimat ‘seorang ayah yang pemurah’. Dalam perkembangannya, Nabi Ibrahim mempunyai keturunan, yang pertama dari Nabi Ismail, yang beranak-pinak melahirkan orang-orang Quraisy, termasuk Nabi Muhammad Saw. Sedang dari pihak Ishaq, beranakkan Ya’qub, yang kemudian melahirkan generasi bani israil. Dari mereka muncul Nabi-nabi yang diutus kepada golongannya (Bani Israil) dan berasal dari cucu-cucu Nabi Ya’qub diantaranya adalah Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun.
Allah berfirman;

Dan itulah hujjah kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. 84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al An'am [6]: 83-84)

Karena itu, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai Bapak Para Nabi, karena banyaknya orang yang diangkat sebagai nabi, dan memiliki darah Ibrahim, baik dari silsilah Nabi Ismail maupun Nabi Ishaq. Dari mereka Nabi Ibrahim mendapatkan keturunan yang saleh, karena doa Nabi Ibrahim setelah membangun Ka’bah.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar  baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ (QS. al-Baqarah: 127-129)

Kisah Nabi Ibrahim dalam memusnahkan berhala disebutkan dalam al Qur’an, al Anbiya’ 51- 72. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah mengisahkan tentang perjalanan Nabi Ibrahim berhadapan dengan para penyembah berhala. Disebutkan, bahwa sebelum kedatangan Musa dan Harun, untuk menyebarkan agama Allah (Tauhid) kepada Bani Israil, telah datang orang yang lebih dulu, yaitu Ibrahim.

Seorang anak yang menentang ayah dan kaumnya, orang-orang yang rajin memuliakan patung-patung tersebut. Mereka mengatakan bahwa pengetahuan akan kemuliaan patung tersebut datang dari nenek moyang mereka. Ibrahim menyeru kepada mereka, bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah kesesatan yang nyata. 

Seruan Nabi Ibrahim tersebut membuat kaget kaumnya, yang mengira Nabi Ibrahim hanya bercanda. Karena demikian kuat totem mereka, sehingga mengira seorang pun tak berani melangkahi kesakralannya. Lalu Nabi Ibrahim menjawab dengan logika bahwa patung tak memberikan kuasa apapun, karena Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dan bukan tuhan yang lemah. 

Tak hanya menyeru, tetapi ia berbuat lebih ‘ekstrim’ lagi dengan menghancurkan berhala hingga berpotong-potong kecuali induknya. Kemudian marah lah kaumnya tersebut, hingga mencari siapa yang sekiranya berani berbuat kurang ajar terhadap sesembahan yang benar-benar mereka sakralkan. Lalu seorang mengatakan perkiraannya, bahwa kemungkinan yang berbuat demikian adalah seorang yang bernama Ibrahim, yang memang benar-benar orang yang anti berhala. 

Kemudian terjadi tanya-jawab antara Ibrahim dengan kaumnya yang penyembah berhala, disini lah terjadi kepintaran komunikasi Nabi Ibrahim. Ketika Nabi Ibrahim menghadapi tuduhan bahwa ia telah menghancurkan patung, lalu ia Nabi Ibrahim balik menuduh bahwa patung yang paling besar lah yang melakukan terhadap patung-patung yang lebih kecil. Kemudian mereka mengatakan bahwa sesungguhnya kamu (Ibrahim) maklum, patung ini sama sekali tak dapat berbicara.

Hal ini lah yang menjadi titik balik kemenangan komunikasi Nabi Ibrahim. Ibrahim lalu bertanya balik, ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak pula memberi mudharat kepada kamu?” lalu, kaumnya marah, dan hendak membakar Nabi Ibrahim. Maka dibakarlah Nabi Ibrahim di hadapan orang banyak. Seraya mengatakan bahwa jika ia benar, maka Tuhan yang disembah Ibrahim meski menyelamatkannya. Di sinilah datang pertolongan Allah yaitu mendinginkan api yang membakar Nabi Ibrahim.

Dalam ayat selanjutnya dijelaskan 


Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia


Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh

Nabiyullah, Nabi besar sepanjang masa, namanya harum, dipanjatkan oleh jutaan kaum muslimin yang bersholawat kepadanya. Memiliki perjalanan panjang pertentangannya dengan para kaumnya. Para keluarganya diuji pula dengan kesabaran. Istrinya, Hajar, ditinggal sendiri di Mekkah, yang waktu itu tidak ada sumber airnya, hingga menemukan setitik sumber air yang dinamakan ‘zam zam’. Semua kemuliaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, datang dari buah ikhtiyar, doa, pemikiran, yang berproses selama puluhan tahun dalam hidupnya, yang menurut perkiraan para mufasirin ia hidup selama 175 tahun.
- - -




Nabi Musa as merupakan salah satu dari banyak rasul Allah yang diutus kepada Bangsa Israel. Permulaan bangsa Israel tumbuh dari sebuah keluarga Ya’qub, yang beranak-pinak di Mesir hingga banyak, dari masa Yususf as, hingga zaman Nabi Musa as. Tetapi berbeda pada awal mula pertama kali mereka di Mesir, yakni di masa Yusuf as, mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Tetapi pada masa sebelum dibangkitkannya Nabi Musa, keadaan bangsa Israil tertindas oleh bangsa Mesir, sebagian besar dari mereka hidup sebagai budak.

Zaman tersebut Mesir diperintah oleh Fir’aun, sebagai penguasa tertinggi, tidak hanya berkuasa dalam wilayah kekuasaan material belaka, melainkan juga sebagai tampuk tertinggi kepercayaan.  Perintah Fir’aun adalah perintah tertinggi, dan rakyat diperintahkan secara lalim. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan mesir. Meski piramida dan Spink disebut sebagai salah satu keajaiban bangunan di dunia, tetapi hal ini menyisakan pertanyaan, seberapa banyak rakyat mesir termasuk dari Bani Israil yang menderita, karena dipaksa membuat bangunan yg sangat besar tersebut.

Surat al Qashash ayat 4 memperlihatkan bagaimana kezaliman Fir’aun terhadap orang-orang dari Bani Israil di  Mesir waktu itu;

Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi (Mesir) dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka, dia menyembelih anak laki-laki mereka[6] dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir'aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan

Ayat di atas menggambarkan bahwa Fir’aun membunuh anak lelaki mereka dengan disembelih, karena khawatir jumlah Bani Israil (anak keturunan Nabi Ya’qub) akan semakin berkembang dan menguasai kerajaan.  Pada saat ini lah, Allah akan mengirimkan bagi Bani Israil seorang yang kelak akan menjadi pemimpin mereka, yakni Nabi Musa as. 
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), (al Qashash ayat 5)

Kebenaran akan ada seorang pemimpin kelompok Bani Israil tersebut, juga telah diramalkan oleh para dukun-dukun Istana Fir’aun. Mereka meramalkan bahwa akan lahir bayi dari Bani Israil yang akan menjadi sebab kehancuran Fir’aun waktu itu (menurut sejarawan bernama Ramses II). Karena kekhawatiran terbesar Fir’aun adalah kebangkitan Bani Israil, yang semakin lama semakin meningkat jumlahnya, dengan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang dianut oleh bangsa Mesir. Hal ini secara politik, menakutkan bagi penguasa (Fir;aun) waktu itu.
Kekhawatiran tersebut dapat dilihat dari al Qashash ayat ke 6, sebagaimana berikut ini;


Dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta bala tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka.

Masa terjadinya pembunuhan terhadap anak-anak lelaki dari bani Israil tersebut, membuat keluarga Musa cemas. Dalam kondisi ini lah, Allah memerintahkan mereka untuk menghanyutkan Nabi Musa, waktu itu masih bayi, ke Sungai Nil, sebuah sungai sangat luas (lebar), yang melewati pusat pemerintahan firaun. 

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) rasul. (al Qashash; 7)
 
Anak bayi yang dihanyutkan dalam peti tersebut dilihat oleh para abdi kerajaan Firaun, lalu diserahkan ke pihak istana. Istri Fir’aun, sebagai seorang wanita, tersentuh hatinya, karena selain merasa kasihan bayi tersebut dilihatnya sangat menggemaskan, sehingga ia melarang para abdinya untuk membunuhnya. Karena mereka tahu, bahwa secara fisik, bayi tersebut adalah bayi keturunan Bani Israil yang berbeda dengan kondisi fisik dengan mereka. 

Dan istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak[22],” sedang mereka tidak menyadari (al Qashash ; 9)

Kondisi terbalik dengan keadaan Ibunda Nabi Musa. Setelah menghanyutkan Nabi Musa, hatinya merasa kosong, tetapi pada akhirnya ia mengetahui bahwa anaknya, sudah dipungut oleh pihak istana dan dijadikan sebagai anak angkat mereka. Tetapi, ibu Nabi Musa merahasiakannya, karena takut jika rahasia terbongkar, maka pihak keluarganya akan terjepit. Di sisi lainnya, naluri seorang ibu, mengatakan bahwa ia harus terus menerus mengawasi anaknya, maka ia menyuruh, anak perempuannya (kakak Nabi Musa) untuk terus mengawasi dari kejauhan perkembangan adiknya. 

Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, "Ikutilah dia (Musa)." Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya (al Qashash: 11)
Pada akhirnya, sang anak (Nabi Musa) kembali lagi ke pangkuan ibunya, meski dengan identitas sebagai ibu kandungnya tak ia bongkar. 

. Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya – al Qashash: 13

Kisah dikembalikannya Nabi Musa kepada ibu kandungnya tidak lah terjadi begitu saja. Ketika saudarinya melihat adiknya, maka ia berkata kepada para abdi Fir’aun yang tengah merawatnya; , “Maukah kamu aku tunjukkan keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?". Maka saudarinya pun mengarahkannya untuk dirawat oleh ibu kandungnya sendiri, yakni ibu kandung dari si anak tadi. Ketika dalam masa pemeliharaan ibunya, istri Fir’aun sering mengirim upah disamping nafkah dan pemberian-pemberian lainnya kepada ibunda Nabi Musa as. 

Penyusuan dari ibu kandungnya selesai, maka Musa dikembalikan ke pihak istana. Dengan kebutuhan gizi dan pendidikan terpenuhi, maka Musa tumbuh dewasa dan sempurna akalnya (kecerdasan), dianugerahi pula kesalehan dan wawasan pengetahuan. Dari basis ini lah modal kepemimpinannya mulai terbentuk. Kepemimpinannya atas kaumnya, diawali dari sebuah moment, yaitu;

Ketika Nabi Musa masuk ke keramaian kota di luar istana, ia mendapati dua orang berkelahi, yang seorang dari bani Israil dan seorang lagi dari kaum fir’aun (bangsa mesir). Orang yang dari bani Israil meminta pertolongan kepadanya. Lalu terjadilah perkelahian antara musa dan golongan fir’aun tersebut, yang membuat orang tersebut tewas. Setelah kejadian, Nabi Musa merasa kecewa, sedih, dan merasa bersalah.  Beliau berjanji tidak akan menolong seorang pun di atas maksiat atau tidak akan menolong orang yang bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang diberikan menghendaki agar seorang hamba mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Dia (Musa) berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, oleh karena nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”
(al Qashash : 16-17)

Orang dari Bani Israil yang kemarin meminta pertolongan darinya, tiba-tiba berteriak meminta pertolognan kembali kepadanya. Kemudian Nabi Musa menghardiknya dan marah terhadapnya, karena menganggap orang tersebut seperti mempermainkannya. Ketika Nabi Musa hendak memukulnya, maka orang tersebut berkata; 

"Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”(al Qashash: 19)  

Maka berita pembunuhan terhadap orang Qibti oleh seorang dari Bani Israil ini tersebar, hingga menyebabkan para pembesar di negeri Mesir berunding untuk memberi hukuman apa yang setimpal kepada Musa terhadap apa yang sudah dilakukannya. Ketika Nabi Musa diberitahu, maka keluarlah ia dari dalam kota tersebut, lalu menuju Madyan. 

Sesampainya di Negeri Madyan, ia menjumpai sekumpulan orang yang memberikan makanan ternak. Diantara rombongan pemberi minum ternak, terdapat dua orang perempuan, yang menunggu para penggembala lainnya memulangkan ternak. Mereka terpaksa menggembalakan ternak, karena ayahnya seorang yang sangat lanjut usia. Maka Nabi Musa memberikan pertolongan kepada keduanya, dan mengantarkan pulang ke rumahnya.

Ayah kedua perempuan tersebut mengetahui bahwa kedua anak perempuannya ditolong oleh seorang pemuda, lantas mengundang si pemuda (Nabi Musa) untuk datang kepadanya, dan menceritakan ihwal perjalanannya dari kota Memphis sampai bertemu kedua anak perempuannya tersebut. Salah seorang anak perempuan tersebut mengusulkan bahwa Nabi Musa hendaknya dijadikan pekerja, karena ia orang yang kuat dan dirasa dapat dipercaya. 

Ayah kedua perempuan tersebut (banyak dari para mufassirin yang menyebut  nama dari kedua perempuan tersebut adalah Nabi Syu’aib), berfikir lain. Ia hendak menikahkan salah seorang dari dua anak perempuannya kepada Nabi Musa, dengan ketentuan Musa bekerja padanya selama 8 tahun atau lebih. Maka Nabi Musa pun menyanggupinya. 

Setelah masa pengabdian kepada mertuanya selesai, yakni selama sekitar 10 tahun, Nabi Musa pulang ke Mesir dan menerima wahyu Allah. Ketika dalam perjalanan meunu mesir, ia dan keluarganya melihat api di lereng gunung. Nabi musa segera menuju kesana, hendak mengambil api, untuk kebutuhan menghangatkan badan. Ketika akan sampai ke tempat api, ia mendengar suara dari sebelah lembah, yang memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkatnya. Ketika Nabi Musa melemparkannya, berubahlah ia menjadi ular. Dan itu lah yang kelak akan menjadi Mukjizat Nabi Musa. 

Ketika itu Nabi Musa diangkat oleh Allah menjadi rasulnya, untuk menemui Fir’aun. Lalu Musa meminta kepada Allah untuk diperbantukan oleh Harun, saudaranya. Karena ia lebih pintar dalam berbicarara, maka Allah menyanggupinya, bahwa Nabi Harun akan menyertainya dan meneguhkannya. Ketika Musa dan Harun sudah bersama, Allah berfirman kepada keduanya;

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)

Mendengar seruan dari Nabi Musa as, Fir’aun dan bala tentaranya berlaku sombong. Fir’aun berkata kepada kaumnya;

“Wahai para pembesar kaumku! Aku tdiak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkan lah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa ia adalah termasuk orang pendusta” (al Qoshosh; 38)

Kemudian dalam Surat Thaha ayat 45-55, al Qur’an menjelaskan percakapan antara Nabi Musa dengan Fir’aun secara lebih detail. Musa bercerita tentang Allah, rahmat yang diberikan kepada makhluk-makhluknya, tentang kewajiban makhluk terhadapnya, siksaan yang akan diberikan bagi orang yang membangkangnya, menceritakan tentang kaum-kaum terdahulu. 

Nabi Musa datang kembali ke istana Fir’aun pada hari yang disepakati, yaitu pada hari raya dan waktu dhuha. Fir’aun beserta para dukunnya mengatur tipu daya. Para dukun berbisik kepada Fir’aun, bahwa kedua orang di hadapannya (Musa dan Harun) adalah dua orang yang akan mengusir Fir’aun dari negerinya sendiri. Kemudian mereka menantang musa untuk adu kekuatan dengan sihir yang mereka miliki. Tiba-tiba tongkat mereka menjadi ular. Lalu, nabi Musa melemparkan tongkat miliknya, yang kmudian menjadi ular, dan memakan ular-ular dari tongkat para dukun fir’aun. 

Nabi Musa kembali kepada kaumnya, Bani Israil, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk membawa mereka di pinggir laut. 

“Pergilah bersama hamba-hambaku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukul lah (buatlah) untuk mereka jalan yang kering di laut itu. Engkau tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir akan tenggelam” ((Thaha: 77)

Kemudian tentara-tentara Fir’aun mengejar mereka, tetapi mereka terguung ombak laut yang menenggelamkan mereka.





Dalam sejarah ummat Islam, peran wanita dalam dakwah Islam tidak dapat diabaikan. Rasulullah pertama kali mendapat wahyu, beliau merasa ketakutan dan menggigil, kemudian datang istrinya, Sayyidina Khadijah, menenangkannya. Sayyidina Khadijah adalah orang kuat di belakang rasulullah dan mensupport risalah Allah. Ketika kematiannya, rasul mengenangnya sebagai ‘amul khuzni’ atau tahun kesedihan. Beliau lah wanita yang dijuluki dengan ummul mukminin, atau ibu dari kaum mukmin. Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah, juga punya peran yang signifikan, dari beliau lah lahir banyak riwayat-riwayat tentang kebiasaan rasulullah. adapula, Fatimah Binti Rasulullah, dan sebagainya. 

Sumayyah binti Khayyat adalah salah satu sahabat rasulullah. Beliau adalah ibu dari Ammar ibn Yasir, seorang yang kematiannya diramalkan oleh rasulullah, sebagai syahid, dan dibunuh oleh kelompok bughot (pembangkang). Sumayyah, juga menemui ajalnya dalam mempertahankan keyakinan. 

Sumayyah binti Khayyath pada mulanya adalah seorang hamba sahaya dari tuan yang bernama Abu Hudzaifah bin Mughirah. Oleh tuannya, beliau dinikahkan dengan seorang lelaki yang bernama Yasir bin Amir. Hasil pernikahannya dengan Yasir, diberi anak, yaitu Ammar Ibn Yasir, dan Ubaidullah bin Yasir. 

Sumayyah mendengar dakwah islam pertamakalinya dari putranya, Ammar, yang mengabarkan kedatangan rasulullah yang membawa risalah tauhid kepada orang tuanya. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Ammar, langsung menerima dakwah rasulullah yang diterima dari anak mereka. Mendengar keislaman dari Yasir dan Ammar, tuan mereka Abu HudzAifah menjadi murka, dan memaksa mereka untuk meninggalkan islam, dan kembali menyembah dewa-dewa, sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu. 

Keluarga Yasir berasal dari golongan terbawah dari strata social, yaitu budak. Kondisi ini memungkinkan mereka tidak mempunyai daya tawar yang tinggi. Mereka siap menerima akibat pilihan yang mereka ambil. Halangan, cobaan, ditimpakan kepada merka, hingga menyebabkan penderitaan yang mereka alami, dengan perih dan melampaui batas kemanusiaan. 

Sumayyah yang seorang wanita tubuhnya diletakkan diatas pasir dan ditimpa dengan pasir yang sangat panas. Belum puas, dada sumayyah ditimpa dengan batu besar hingga tak dapat bernafas. Mereka tidak akan berhenti menyiksa Sumayyah, sampai Sumayyah kembali mempercayai berhala-berhala sesembahan mereka. Tetapi Sumayyah tetap bergeming.

Sumayyah dan keluarganya menerima siksaan oleh bangsawan kaum Quraisy, sebagaimana yang dialami oleh Bilal Ibn Rabbah ketika beliau menerima dakwah rasulullah. cambukan, salib, kulitnya dileleti dengan besi panas, sampai ditenggelamkan kedalam air, tetapi mereka hanya menyeru sebuah kalimat ‘ahad .. ahad .. “. Suatu kalimat yang malah membangkitkan kemarahan bangsawan Quraisy. 

Penyiksaan tersebut berhenti, ketika penyiksanya putus asa, hingga mengakhiri kehidupan Sumayyah, dengan Abu Jahal sebagai eksekutornya. Sumayyah dibunuh dengan ditebas dengan tombak hingga menembus dadanya. Menjelang wafatnya ia tetap istiqomah terhadap keyakinannya. Sampai sekarang, cerita tentang sumayyah diceritakan sebagai symbol kesabaran, keistiqomahan, kekuatan iman, dan ketangguhan iman, sebagai mujahidah yang mendapatkan syahid pertamanya, ketika masa awal dakwah nabi. (Assabiqunal awwalun)